SAAT SAKIT (#2)
berjalan di pinggir lorong kehidupan
kutemukan kedamaian di tepian yang paling tepi
sebelum seberkas cahaya lamat-lamat menyinari
sesuatu yang hadir tanpa keinginan
mencecap sejuknya yang menetes dari langit
kuhirup kedamaian dari perindu yang paling rindu
setelah seluruh cahaya meredup dan dipingit
semua yang pergi untuk bersatu
berbaring di belaian paling kasih
tiada luka yang hilang tanpa terkenang
saat setitik cahaya melemah
hujan dan gerimis membadai topeng usang
(Liwenggun-Kamar putih,8/8/2011)
Tampilkan postingan dengan label Lingsir Wengi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingsir Wengi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Agustus 2011
Minggu, 07 Agustus 2011
BURUH KERTAS
BURUH KERTAS
berkebun dengan cangkul dan pena
bukan melamun dengan ludah dan kata
sebab pernah tiba sebuah masa
kata menjadi senjata
dan pena jadi peluru
inilah syair penghabisan
kepada semu yang meracik sembilu pada berita layar kaca
mungkin tinta kita penuh tinja
mabuk isotonik dari khuldi
maka kusebut engkau gencatan puisi
(Pkl,2011)
berkebun dengan cangkul dan pena
bukan melamun dengan ludah dan kata
sebab pernah tiba sebuah masa
kata menjadi senjata
dan pena jadi peluru
inilah syair penghabisan
kepada semu yang meracik sembilu pada berita layar kaca
mungkin tinta kita penuh tinja
mabuk isotonik dari khuldi
maka kusebut engkau gencatan puisi
(Pkl,2011)
Jumat, 29 Juli 2011
HARU BIRU
HARU BIRU
oleh Lingsir Wengi Guntono
ilalang di wajahku
sebanyak cendawan di sudut cawan
petik bintang itu
tanpa luka tubuh perawan
seperti tilam yang merayu angin semalam
tiada lagi waktu sembunyi di kolong jembatan
tiada lagi hiruk pikuk mata lebam
tiada lagi belati yang merimba kesepian
setelah rembulan membilas keluh
lentera berdiang padanya tanpa peluh
apinya pelita bukan luka pada bara
api dan rembulan betapa mesranya
melukismu malam ini
bukanlah sendiri
secawan kita telah membunuh sunyi
Liweng-Gun, Kota Angin Utara, 2007
oleh Lingsir Wengi Guntono
ilalang di wajahku
sebanyak cendawan di sudut cawan
petik bintang itu
tanpa luka tubuh perawan
seperti tilam yang merayu angin semalam
tiada lagi waktu sembunyi di kolong jembatan
tiada lagi hiruk pikuk mata lebam
tiada lagi belati yang merimba kesepian
setelah rembulan membilas keluh
lentera berdiang padanya tanpa peluh
apinya pelita bukan luka pada bara
api dan rembulan betapa mesranya
melukismu malam ini
bukanlah sendiri
secawan kita telah membunuh sunyi
Liweng-Gun, Kota Angin Utara, 2007
Kamis, 28 Juli 2011
UNDANGAN IKUT ANTOLOGI PUISI TEMA SOSIAL/KEMANUSIAAN
UNDANGAN IKUT ANTOLOGI PUISI TEMA SOSIAL/KEMANUSIAAN
KOMUNITAS RADJA KETJIL Jakarta mengajak dan mengundang para penyair di mana saja, pria wanita semua golongan/ kalangan dan segala usia untuk ikut bergabung dalam sebuah antologi puisi bertemakan sosial/ kemanusiaan yang direncanakan terbit pada awal tahun 2012. Para penyair dipersilakan mengiirim sebanyak 10 (sepuluh) puisi yang akan diseleksi oleh tim editor yang ditunjuk. Panjang setiap puisi maksimal 50 baris. Para penyair yang karyanya terpilih/ dimuat dalam buku, akan mendapat nomor bukti sebanyak 5 (lima) eksmplar buku.
Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: adri.darmadji@yahoo.com
paling lambat sudah harus diterima pada 31 November 2011.
Jangan lupa, sertakan juga biodata dan foto terbaru Anda.
Salam sastra!
Adri Darmadji Woko, B. Priyono Soediono, Dharmadi, Dharnoto, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Oei Sien Tjwan, PrijonoTjiptoherijanto & Rahadia Zakaria
MOHON SEBARKAN!
Trm ksh.
KOMUNITAS RADJA KETJIL Jakarta mengajak dan mengundang para penyair di mana saja, pria wanita semua golongan/ kalangan dan segala usia untuk ikut bergabung dalam sebuah antologi puisi bertemakan sosial/ kemanusiaan yang direncanakan terbit pada awal tahun 2012. Para penyair dipersilakan mengiirim sebanyak 10 (sepuluh) puisi yang akan diseleksi oleh tim editor yang ditunjuk. Panjang setiap puisi maksimal 50 baris. Para penyair yang karyanya terpilih/ dimuat dalam buku, akan mendapat nomor bukti sebanyak 5 (lima) eksmplar buku.
Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: adri.darmadji@yahoo.com
paling lambat sudah harus diterima pada 31 November 2011.
Jangan lupa, sertakan juga biodata dan foto terbaru Anda.
Salam sastra!
Adri Darmadji Woko, B. Priyono Soediono, Dharmadi, Dharnoto, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Oei Sien Tjwan, PrijonoTjiptoherijanto & Rahadia Zakaria
MOHON SEBARKAN!
Trm ksh.
Kirimkan karya sastra ke Majalah SASTRA INDONESIA
Kirimkan karya sastra ke Majalah SASTRA INDONESIA
Sebagai tindak lanjut DBK Rumah Sastra Korrie Layun Rampan akan menerbitkan majalah sastra dengan nama SASTRA INDONESIA.
Teman2 dapat mengirim cerpen, esai, kritik sastra, puisi, drama, novel.
Panjang dan tema bebas.
Naskah yang dimuat akan mendapat imbalan yang pantas.
Naskah dikirim ke email: majalah.sastra.indonesia@gmail.com
atau lewat pos ke:
Korrie Layun Rampan
Griya Tepian Lestari
Blok LLL No 2
Samarinda
Kalimantan Timur.
(sumber info: pesan pendek / sms Bambang Joko Susilo; cerpenis/ penulis cerita anak)
MOHON SEBARKAN!
Sebagai tindak lanjut DBK Rumah Sastra Korrie Layun Rampan akan menerbitkan majalah sastra dengan nama SASTRA INDONESIA.
Teman2 dapat mengirim cerpen, esai, kritik sastra, puisi, drama, novel.
Panjang dan tema bebas.
Naskah yang dimuat akan mendapat imbalan yang pantas.
Naskah dikirim ke email: majalah.sastra.indonesia@gmail.com
atau lewat pos ke:
Korrie Layun Rampan
Griya Tepian Lestari
Blok LLL No 2
Samarinda
Kalimantan Timur.
(sumber info: pesan pendek / sms Bambang Joko Susilo; cerpenis/ penulis cerita anak)
MOHON SEBARKAN!
MEMBACA HUJAN DERAS PADA SAJAK YANG MENGALIR
MEMBACA HUJAN DERAS PADA SAJAK YANG MENGALIR
(Penjara) Kamar
oleh Hoo Jan d'Ras pada 27 Juli 2011 jam 5:41
dengus
hembus
angin menembus
jendela kamar
di pagiku yang masih gelap
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
bahkan
aku lupa bilangan telah berlalu
tertindas roda kehidupan
terbelit lilit putaran bumi
sekulum senyum lalu menari
indah membekas di atas air telaga
tanpa angin, tanpa riak
masih jelas tergambar
akan dendang sejumlah nama
aku terancam pada arah panah
"lari!"
"hadapi!"
"ratapi!"
masih juga aku di sini
tanpa gerak, tanpa puisi
nafasmu
bangunkanlah aku!
{dps, 27/7/11}
Perkenalanku yang sederhana dengan seorang sahabat, Hoo Jan d’Ras namanya, berarti membingkai karya-karyanya sebagai pelajaran dalam memaknai kehidupan dan proses sosial dalam puisi. Tanpa latar belakang kesejarahan yang diketahui secara pasti, saya teringat pada sebuah percakapan ringan kami dalam sebuah komentar tentang foto teater Yaoma yang dimuat di facebook. “Penggelar KeberHitam dalam pementasan berarti betugas sebagai sutradara mas” demikianlah komentarnya yang singkat. Selanjutnya saya mengetahui bahwa sahabat Hoo Jan d’Ras (HJd) ini adalah seorang pegiat seni drama atau teater.
Larik-larik sajak yang tersusun dengan unik pada puisi berjudul (Penjara) Kamar ini adalah salah satu karya HJd yang dikirimkan kepada saya beberapa waktu yang lalu. Mencermati puisi dengan bentuk sajak bebas seperti ini, penulisnya telah berhasil mengikat imajinasi pembaca dengan enjabemen yang terikat kuat. Pertanyaan mulai timbul setelah berusaha mencari petunjuk dalam setiap makna yang diracik dalam setiap larik sajak ini. Menggunakan judul sebagai kunci untuk membuka sebuah karya adalah metode yang dapat digunakan dalam menggali makna puisi (Abrams).
Judul yang dipilih oleh HJd cukup unik /(Penjara) Kamar/, seolah-olah sebuah kalimat terpisah oleh dua bagian yaitu “Penjara” yang memiliki makna tersendiri dan “Kamar” sebagai rangkaian artikulasi yang dibentuk oleh kata Penjara. Apakah memang tulisan HJd ini berkisah tentang penjara dalam kamar? Mari kita cermati rangkaian makna dalam larik-larik selanjutnya.
//dengus//hembus//angin menembus/jendela kamar/di pagiku yang masih gelap//
Bait ini terdiri dari 5 larik, dengan 2 larik yang terdiri dari sepatah kata, diikuti dengan 2 larik selanjutnya yang ditulis dengan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata. Bait ini kemudian diakhiri dengan 3 kata dasar dan 1 kata yang berimbuhan. Penataan larik larik tersebut cukup menarik, mengingat penulisan larik ke-4 dan ke-5 sedikit bergeser ke tengah. Hal ini telah lama digunakan oleh penyair dan pemuisi modern dalam menyampaikan makna. Pembaca akan dibawa kepada makna-makna baru, setelah teks itu lahir dan tumbuh bersama imajinasi pembacanya (Saussure). Sebuah sajak yang ditulis oleh SDD (Sapardi Djoko Damono) yang berjudul “akuarium” pada kumpulan sajak Mata Pisau (1982), juga membentuk susunan yang ajaib seperti ini, namun hadir dengan performa yang lebih unggul.
Penataan penggalan larik untuk membentuk larik baru yang dilakukan oleh HJd bukanlah suatu penataan yang semata-mata berusaha membentuk efek dramatis dari estetika penulisan puisi. Jika dicermati larik ke-3 dan ke-4 adalah gabungan satu frasa :
//Angin menembus jendela kamar di pagiku yang masih gelap //
Dengan pembacaan yang sepintas akan muncul sebuah pernyataan : Penulis menggunakan Angin sebagai metafora untuk menjelaskan situasi yang melingkupi saat sajak ini dituliskan. Benarkah demikian ?. Mencermati bait pertama dan kedua, seluruh larik dituliskan dari sudut pandang orang pertama, namun yang dikisahkan pada bait tersebut bukanlah semata-mata cerita tentang sang Angin. Melainkan subjek yang mendengus, berhembus dan berada di dalam kamar saat hari masih gelap. Subjek ini bukanlah angin, namun ia adalah “seseorang” yang belaiannya membuat si bulu terbang ke kampung halaman. Larik terakhir pada bait pertama tersebut adalah pengikat makna untuk menterjemahkan kata-kata di bait yang kedua :
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
Setelah jelas bahwa subjek pada bait pertama ini bukanlah angin, namun “seseorang” permaisuri yang duduk di “takhta” dan mampu membawa penulis pulang ke kampung halaman. Maka memaknai metafora yang dipilih dalam puisi ini akan membawa kita pada perjalanan hidup HJd di tanah perantauan, meninggalkan kampung halaman. Kampung halaman adalah istilah yang muncul dalam budaya rumpun Melayu dan Asia timur. Tidak ditemukan istilah tersebut pada peradaban lain seperti Eropa, Arab jazirah, Indian, dsb. Pada peradaban yang lain kita akan menemukan istilah “mother land” tanah air, atau “home land” yang lebih bermakna : kota tempat asal muasal sesorang. Pada peradaban Hindustan yang juga memiliki banyak kosakata untuk mengistilahkan tempat tinggal asal, belum ditemukan istiah derngan makna yang setara dengan “kampung halaman”. “Ghara” (jha_drua)cenderung diartikan sebagai rumah tempat kelahiran. Istilah kampung halaman lebih memiliki artikulasi romantika masa lalu, tempat lahir tumbuh dan kembang, yang oleh para perantau melayu bahkan menjadi tempat peristirahatan terakhir (Van Earp).
Hingga bait kedua, penjelajahan saya untuk mengkaji puisi HJd ini semakin membara. Sampai di bait ke 3 yang berbunyi :
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
Pembaca sulit memahami apakah 3 larik tersebut adalah ungkapan penulis tentang masa kanak-kanak, atau masa-pencarian jati diri. Namun makna yang terikat dalam larik ini memang tidak berada dalam wilayah gelap terang dalam pengartian kata dan makna. Patut dicermati bahwa penulis memilih diksi mentari, melati dan merah. Ketiga kata tesebut telah digunakan sejak lama oleh penyair nusantara untuk mewakili kata sifat yang terikat dalam jiwa manusia. Jika diijinkan untuk menterjemahkan secara bebas :
mentari lupa aku sinarnya
(harapan_aku lupa pernah berharap)
melati lupa aku harumnya
(kesucian_aku lupa pernah merindukannya)
merah lupa aku warnanya
(perlawanan_aku lupa dulu selalu berlawan)
Jika saja HJd tidak memberikan rambu-rambu yang sangat indah pada bait selanjutnya, niscaya pembaca akan memilih belokan yang lain dan tidak mencapai tempat pemberhentian makna yang sesungguhnya. Sekali lagi bait ke-empat hadir dengan penulisan frasa yang dipenggal secara menakjubkan dan ajaib :
//bahkan/aku lupa bilangan telah berlalu/tertindas roda kehidupan/terbelit lilit putaran bumi//
Dituliskan dalam 4 larik yang termasuk dalam 1 frasa, kembali muncul sebuah pertanyaan : Siapakah “aku” yang dimaksud pada bait ini? Dengan penggalan penggalan yang unik HJd telah menyuguhkan percakapan antara 2 orang yang berbeda dalam sebuah puisi. Pilihan bahasa yang sederhana, tanpa hingar bingar avan garde ternyata mampu menghadirkan lanskap kesunyian dalam ruang penjara psikologis yang diciptakan dalam dialog 2 anak manusia. Penjara tidak lagi hadir sebagai batas antara ruang waktu dengan kebebasan, namun penjara dalam tulisan HJd telah mampu menyuguhkan sekelumit proses dalam mencari kesejatian makna kehidupan.
HJd telah mengadirkan dialog antara “aku” (sang penulis) yang mengungkapkan perempuan (permaisuri) sebagai angin. Kemudian dengan pemenggalan frasa yang cantik, HJd telah menjelma sebagai permaisuri yang berkisah tentang suatu masa penuh pengharapan, kesucian dan pergulatan. Seiring usia yang bertambah, menjalani fase kehidupan dengan penuh perjuangan untuk kemudian terbelit dengan rutinitas yang diciptakan pada alam metro dan modern.
Tidak berlebihan jika larik ke-4 pada bait ke-4 tersebut adalah gerbang pembuka makna bagi pembaca untuk menerima makna-makna yang tidak terikat pada bait selanjutnya. /terbelit lilit di putaran bumi//. Putaran bumi saat ini ditandai oleh manusia lewat takaran dan satuan. Waktu dan jarak yang pernah diidentifikasi sebagai dimansi tambahan untuk memudahkan aktivitas manusia kini telah menjadi belenggu yang baru, dengan alat-alat bantu yang menciptakan keterasingan dan keterbatasan antara hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Peradaban di muka bumi telah “melilit” dan “membelit” HJd dan memenjarakan dirinya setelah mencari kesejatian makna sepanjang kehidupan. Tegur sapa lewat alat komunikasi modern ternyata melupakan kita untuk melihat sebuah dunia nyata dibalik dinding dunia maya yang tergambar dan terekam dalam memori kita. HJd telah berhasil merangkai makna tersebut dengan meninggalkan rambu-rambu yang mengantarkan kita untuk memahami makna puisi. Puisi yang berkisah tentang keterasingan manusia di antara hiruk pikuk peradaban.
“(Penjara) Kamar” telah berhasil membangun imajinasi pembaca untuk kembali pada sebuah masa saat mentari, melati dan merah masih mempunyai arti. Jika WS. Rendra adalah penyair burung merak yang mengembalikan puisi kepada kalimat dan memperkosa soneta dengan sihirnya (Wing Karjo), maka HJd termasuk penyair yang mengembalikan puisi kepada keseluruhan bait. Dengan membangun sebuah hubungan yang kuat antar bait, dan setia pada bentuk-bentuk yang tidak mengikat pada kehadiran sebuah sajak. Genre sajak bebas memang pilihan yang cukup rumit bagi seorang pemuisi. Saat rangkaian baitnya ditulis dengan instan, maka kedalaman makna yang terlahir dalam sebuah puisi akan gagal mengukir imajinasi pembaca menuju ruang yang diharapkan oleh penulis. Namun alangkah baiknya jika tinjauan atas puisi ini tidak membicarakan genre, sebagaimana kata SDD (Sapardi Djoko Damono) pada ulasan “Membaca Lima Sajak Sapardi” yang digawangi oleh Melanie Budianta : Beliau (SDD) menyatakan bahwa pemilahan puisi dalam genre tidak sebaiknya dilakukan”. Meskipun demikian, sebagai penulis SDD ternyata setia dengan genre soneta yang menggunakan gaya italia dan inggris, pun juga pada gaya sonetanya sendiri yang terdiri dari 14 larik 1 bait dengan rima (aaaa). Sebuah epigram bergaya soneta.
HJd telah menuliskan 29 larik pada sajak bebasnya. Dan baiit ke 5 sampai terakhir adalah pamungkas dari lanskap kesunyian penjara yang dibangun dalam setiap bait sajaknya. Saat perenungan seorang penyair telah mencapai titik nadir, maka langkah nyata yang harus dipilih ternyata masih menyisakan perdebatan.
Dengan menggunakan kosakata yang sederhana, namun terikat erat pada setiap struktur makna dan penulisannya, puisi HJd telah berhasil membuktikan bahwa sebuah puisi imajis telah dapat hadir sebagai ruang untuk menggali apresiasi dari pembacanya. Sebagaimana kata Goenawan Moehamad : puisi imajis adalah ungkapan penulis yang berawal dari sebuah imajinasi namun mampu mengikat pembacanya lewat setiap kata-kata yang hadir seperti mantera”. Sebuah sajak bebas terbebas dari penjara kamar Hoo Jan d’Ras.
Akhir kata, sepatah kata maaf hadir pada seluruh pemerhati sastra. Ulasan ini dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara otodidak. Tanpa bermaksud untuk menyinggung penulis puisi ini, ulasan ini semata mata hanya bermaksud untuk membingkai karya seorang sahabat yang sangat bermakna.
Salam Satu Jiwa!
(Lingsir Wengi Guntono)
(Penjara) Kamar
oleh Hoo Jan d'Ras pada 27 Juli 2011 jam 5:41
dengus
hembus
angin menembus
jendela kamar
di pagiku yang masih gelap
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
bahkan
aku lupa bilangan telah berlalu
tertindas roda kehidupan
terbelit lilit putaran bumi
sekulum senyum lalu menari
indah membekas di atas air telaga
tanpa angin, tanpa riak
masih jelas tergambar
akan dendang sejumlah nama
aku terancam pada arah panah
"lari!"
"hadapi!"
"ratapi!"
masih juga aku di sini
tanpa gerak, tanpa puisi
nafasmu
bangunkanlah aku!
{dps, 27/7/11}
Perkenalanku yang sederhana dengan seorang sahabat, Hoo Jan d’Ras namanya, berarti membingkai karya-karyanya sebagai pelajaran dalam memaknai kehidupan dan proses sosial dalam puisi. Tanpa latar belakang kesejarahan yang diketahui secara pasti, saya teringat pada sebuah percakapan ringan kami dalam sebuah komentar tentang foto teater Yaoma yang dimuat di facebook. “Penggelar KeberHitam dalam pementasan berarti betugas sebagai sutradara mas” demikianlah komentarnya yang singkat. Selanjutnya saya mengetahui bahwa sahabat Hoo Jan d’Ras (HJd) ini adalah seorang pegiat seni drama atau teater.
Larik-larik sajak yang tersusun dengan unik pada puisi berjudul (Penjara) Kamar ini adalah salah satu karya HJd yang dikirimkan kepada saya beberapa waktu yang lalu. Mencermati puisi dengan bentuk sajak bebas seperti ini, penulisnya telah berhasil mengikat imajinasi pembaca dengan enjabemen yang terikat kuat. Pertanyaan mulai timbul setelah berusaha mencari petunjuk dalam setiap makna yang diracik dalam setiap larik sajak ini. Menggunakan judul sebagai kunci untuk membuka sebuah karya adalah metode yang dapat digunakan dalam menggali makna puisi (Abrams).
Judul yang dipilih oleh HJd cukup unik /(Penjara) Kamar/, seolah-olah sebuah kalimat terpisah oleh dua bagian yaitu “Penjara” yang memiliki makna tersendiri dan “Kamar” sebagai rangkaian artikulasi yang dibentuk oleh kata Penjara. Apakah memang tulisan HJd ini berkisah tentang penjara dalam kamar? Mari kita cermati rangkaian makna dalam larik-larik selanjutnya.
//dengus//hembus//angin menembus/jendela kamar/di pagiku yang masih gelap//
Bait ini terdiri dari 5 larik, dengan 2 larik yang terdiri dari sepatah kata, diikuti dengan 2 larik selanjutnya yang ditulis dengan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata. Bait ini kemudian diakhiri dengan 3 kata dasar dan 1 kata yang berimbuhan. Penataan larik larik tersebut cukup menarik, mengingat penulisan larik ke-4 dan ke-5 sedikit bergeser ke tengah. Hal ini telah lama digunakan oleh penyair dan pemuisi modern dalam menyampaikan makna. Pembaca akan dibawa kepada makna-makna baru, setelah teks itu lahir dan tumbuh bersama imajinasi pembacanya (Saussure). Sebuah sajak yang ditulis oleh SDD (Sapardi Djoko Damono) yang berjudul “akuarium” pada kumpulan sajak Mata Pisau (1982), juga membentuk susunan yang ajaib seperti ini, namun hadir dengan performa yang lebih unggul.
Penataan penggalan larik untuk membentuk larik baru yang dilakukan oleh HJd bukanlah suatu penataan yang semata-mata berusaha membentuk efek dramatis dari estetika penulisan puisi. Jika dicermati larik ke-3 dan ke-4 adalah gabungan satu frasa :
//Angin menembus jendela kamar di pagiku yang masih gelap //
Dengan pembacaan yang sepintas akan muncul sebuah pernyataan : Penulis menggunakan Angin sebagai metafora untuk menjelaskan situasi yang melingkupi saat sajak ini dituliskan. Benarkah demikian ?. Mencermati bait pertama dan kedua, seluruh larik dituliskan dari sudut pandang orang pertama, namun yang dikisahkan pada bait tersebut bukanlah semata-mata cerita tentang sang Angin. Melainkan subjek yang mendengus, berhembus dan berada di dalam kamar saat hari masih gelap. Subjek ini bukanlah angin, namun ia adalah “seseorang” yang belaiannya membuat si bulu terbang ke kampung halaman. Larik terakhir pada bait pertama tersebut adalah pengikat makna untuk menterjemahkan kata-kata di bait yang kedua :
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
Setelah jelas bahwa subjek pada bait pertama ini bukanlah angin, namun “seseorang” permaisuri yang duduk di “takhta” dan mampu membawa penulis pulang ke kampung halaman. Maka memaknai metafora yang dipilih dalam puisi ini akan membawa kita pada perjalanan hidup HJd di tanah perantauan, meninggalkan kampung halaman. Kampung halaman adalah istilah yang muncul dalam budaya rumpun Melayu dan Asia timur. Tidak ditemukan istilah tersebut pada peradaban lain seperti Eropa, Arab jazirah, Indian, dsb. Pada peradaban yang lain kita akan menemukan istilah “mother land” tanah air, atau “home land” yang lebih bermakna : kota tempat asal muasal sesorang. Pada peradaban Hindustan yang juga memiliki banyak kosakata untuk mengistilahkan tempat tinggal asal, belum ditemukan istiah derngan makna yang setara dengan “kampung halaman”. “Ghara” (jha_drua)cenderung diartikan sebagai rumah tempat kelahiran. Istilah kampung halaman lebih memiliki artikulasi romantika masa lalu, tempat lahir tumbuh dan kembang, yang oleh para perantau melayu bahkan menjadi tempat peristirahatan terakhir (Van Earp).
Hingga bait kedua, penjelajahan saya untuk mengkaji puisi HJd ini semakin membara. Sampai di bait ke 3 yang berbunyi :
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
Pembaca sulit memahami apakah 3 larik tersebut adalah ungkapan penulis tentang masa kanak-kanak, atau masa-pencarian jati diri. Namun makna yang terikat dalam larik ini memang tidak berada dalam wilayah gelap terang dalam pengartian kata dan makna. Patut dicermati bahwa penulis memilih diksi mentari, melati dan merah. Ketiga kata tesebut telah digunakan sejak lama oleh penyair nusantara untuk mewakili kata sifat yang terikat dalam jiwa manusia. Jika diijinkan untuk menterjemahkan secara bebas :
mentari lupa aku sinarnya
(harapan_aku lupa pernah berharap)
melati lupa aku harumnya
(kesucian_aku lupa pernah merindukannya)
merah lupa aku warnanya
(perlawanan_aku lupa dulu selalu berlawan)
Jika saja HJd tidak memberikan rambu-rambu yang sangat indah pada bait selanjutnya, niscaya pembaca akan memilih belokan yang lain dan tidak mencapai tempat pemberhentian makna yang sesungguhnya. Sekali lagi bait ke-empat hadir dengan penulisan frasa yang dipenggal secara menakjubkan dan ajaib :
//bahkan/aku lupa bilangan telah berlalu/tertindas roda kehidupan/terbelit lilit putaran bumi//
Dituliskan dalam 4 larik yang termasuk dalam 1 frasa, kembali muncul sebuah pertanyaan : Siapakah “aku” yang dimaksud pada bait ini? Dengan penggalan penggalan yang unik HJd telah menyuguhkan percakapan antara 2 orang yang berbeda dalam sebuah puisi. Pilihan bahasa yang sederhana, tanpa hingar bingar avan garde ternyata mampu menghadirkan lanskap kesunyian dalam ruang penjara psikologis yang diciptakan dalam dialog 2 anak manusia. Penjara tidak lagi hadir sebagai batas antara ruang waktu dengan kebebasan, namun penjara dalam tulisan HJd telah mampu menyuguhkan sekelumit proses dalam mencari kesejatian makna kehidupan.
HJd telah mengadirkan dialog antara “aku” (sang penulis) yang mengungkapkan perempuan (permaisuri) sebagai angin. Kemudian dengan pemenggalan frasa yang cantik, HJd telah menjelma sebagai permaisuri yang berkisah tentang suatu masa penuh pengharapan, kesucian dan pergulatan. Seiring usia yang bertambah, menjalani fase kehidupan dengan penuh perjuangan untuk kemudian terbelit dengan rutinitas yang diciptakan pada alam metro dan modern.
Tidak berlebihan jika larik ke-4 pada bait ke-4 tersebut adalah gerbang pembuka makna bagi pembaca untuk menerima makna-makna yang tidak terikat pada bait selanjutnya. /terbelit lilit di putaran bumi//. Putaran bumi saat ini ditandai oleh manusia lewat takaran dan satuan. Waktu dan jarak yang pernah diidentifikasi sebagai dimansi tambahan untuk memudahkan aktivitas manusia kini telah menjadi belenggu yang baru, dengan alat-alat bantu yang menciptakan keterasingan dan keterbatasan antara hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Peradaban di muka bumi telah “melilit” dan “membelit” HJd dan memenjarakan dirinya setelah mencari kesejatian makna sepanjang kehidupan. Tegur sapa lewat alat komunikasi modern ternyata melupakan kita untuk melihat sebuah dunia nyata dibalik dinding dunia maya yang tergambar dan terekam dalam memori kita. HJd telah berhasil merangkai makna tersebut dengan meninggalkan rambu-rambu yang mengantarkan kita untuk memahami makna puisi. Puisi yang berkisah tentang keterasingan manusia di antara hiruk pikuk peradaban.
“(Penjara) Kamar” telah berhasil membangun imajinasi pembaca untuk kembali pada sebuah masa saat mentari, melati dan merah masih mempunyai arti. Jika WS. Rendra adalah penyair burung merak yang mengembalikan puisi kepada kalimat dan memperkosa soneta dengan sihirnya (Wing Karjo), maka HJd termasuk penyair yang mengembalikan puisi kepada keseluruhan bait. Dengan membangun sebuah hubungan yang kuat antar bait, dan setia pada bentuk-bentuk yang tidak mengikat pada kehadiran sebuah sajak. Genre sajak bebas memang pilihan yang cukup rumit bagi seorang pemuisi. Saat rangkaian baitnya ditulis dengan instan, maka kedalaman makna yang terlahir dalam sebuah puisi akan gagal mengukir imajinasi pembaca menuju ruang yang diharapkan oleh penulis. Namun alangkah baiknya jika tinjauan atas puisi ini tidak membicarakan genre, sebagaimana kata SDD (Sapardi Djoko Damono) pada ulasan “Membaca Lima Sajak Sapardi” yang digawangi oleh Melanie Budianta : Beliau (SDD) menyatakan bahwa pemilahan puisi dalam genre tidak sebaiknya dilakukan”. Meskipun demikian, sebagai penulis SDD ternyata setia dengan genre soneta yang menggunakan gaya italia dan inggris, pun juga pada gaya sonetanya sendiri yang terdiri dari 14 larik 1 bait dengan rima (aaaa). Sebuah epigram bergaya soneta.
HJd telah menuliskan 29 larik pada sajak bebasnya. Dan baiit ke 5 sampai terakhir adalah pamungkas dari lanskap kesunyian penjara yang dibangun dalam setiap bait sajaknya. Saat perenungan seorang penyair telah mencapai titik nadir, maka langkah nyata yang harus dipilih ternyata masih menyisakan perdebatan.
Dengan menggunakan kosakata yang sederhana, namun terikat erat pada setiap struktur makna dan penulisannya, puisi HJd telah berhasil membuktikan bahwa sebuah puisi imajis telah dapat hadir sebagai ruang untuk menggali apresiasi dari pembacanya. Sebagaimana kata Goenawan Moehamad : puisi imajis adalah ungkapan penulis yang berawal dari sebuah imajinasi namun mampu mengikat pembacanya lewat setiap kata-kata yang hadir seperti mantera”. Sebuah sajak bebas terbebas dari penjara kamar Hoo Jan d’Ras.
Akhir kata, sepatah kata maaf hadir pada seluruh pemerhati sastra. Ulasan ini dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara otodidak. Tanpa bermaksud untuk menyinggung penulis puisi ini, ulasan ini semata mata hanya bermaksud untuk membingkai karya seorang sahabat yang sangat bermakna.
Salam Satu Jiwa!
(Lingsir Wengi Guntono)
TAMAN KOTA
TAMAN KOTA
katamu wajahnya embun
katamu wajahnya embun, putik bunga
katamu wajahnya embun, putik bunga
layu diterpa angin
katamu wajahnya embun, putik bunga layu
diterpa angin dingin
katamu wajahnya embun, putingnya daun, pinggangnya batang mungil
tubuhnya gigil
"aku adalah taman!" teriakmu
(kau adalah hujan adalah tanah adalah lampu adalah kumbang, adalah entah !)
(Liweng-Gun, jkt, 2006)
katamu wajahnya embun
katamu wajahnya embun, putik bunga
katamu wajahnya embun, putik bunga
layu diterpa angin
katamu wajahnya embun, putik bunga layu
diterpa angin dingin
katamu wajahnya embun, putingnya daun, pinggangnya batang mungil
tubuhnya gigil
"aku adalah taman!" teriakmu
(kau adalah hujan adalah tanah adalah lampu adalah kumbang, adalah entah !)
(Liweng-Gun, jkt, 2006)
MAHASISWA ITU
Bukan mereka yang berbondong-bondong dengan wajah lusuh gondrong.Seperti televisi yang berkoar tentang api dan tarian di jalan berlubang. Mungkin mereka terasing karena lama singgah di tempat tak bernama untuk mengetik tentang kedukaan tanpa spasi. Bukan lenggak-lenggok seronok pada kisah cinta rembulan dan bintang jatuh di bawah pohonan. Pasti mereka jarang masuk kuliah karena dianggap momok oleh pemegang pistol. Bisa jadi terlalu banyak yang mereka lihat sebelum waktunya, sehingga semua dosen dianggap dusta.
(Liweng-Gun, Mlg 1998 : "kumpulan pisau belati")
(Liweng-Gun, Mlg 1998 : "kumpulan pisau belati")
Selasa, 26 Juli 2011
SONET BOCAH ANGIN MENUJU PULANG
menyelinap seperti kabut
menyisakan lentera di wajah malam
siapa lagi yang akan berselimut
nafasnya kekal disemai alam
ketiadaan kubukan ketidakberadaanmu
punjuga bukan kehilangan kita
waktu mencatat kemarin yang semu
rintik hujan mengukir makna
sahabat pulang menatah nama
hiruk pikuk ditelan sunyi
sejati dan setara selamanya
suara-suara melemah lonceng berbunyi
kelak jika semua jadi ilalang
bocah angin merentas jalan pulang
(liweng-Gun, ruang putih, 2011)
menyisakan lentera di wajah malam
siapa lagi yang akan berselimut
nafasnya kekal disemai alam
ketiadaan kubukan ketidakberadaanmu
punjuga bukan kehilangan kita
waktu mencatat kemarin yang semu
rintik hujan mengukir makna
sahabat pulang menatah nama
hiruk pikuk ditelan sunyi
sejati dan setara selamanya
suara-suara melemah lonceng berbunyi
kelak jika semua jadi ilalang
bocah angin merentas jalan pulang
(liweng-Gun, ruang putih, 2011)
Jumat, 22 Juli 2011
Mengenang Robert Penn Warren
Mengenang Sastrawan Robert Penn Warren
(oleh : Lingsir Wengi Guntono)
Pendahuluan
Pada diskusi sastra di beberapa Grup Facebook, saya menjumpai nama Warren disebut berulang-ulang. Tergelitik untuk memperkenalkan sosok Warren kepada sahabat sastra yang budiman, saya mencoba menyusun sebuah tulisan ringan untuk menjelaskan sosok penulis Amerika yang inspiratif ini.
Seorang penulis serbaguna, dibedakan sebagai novelis dan kritikus, Warren dianggap sebagai salah satu penyair terbaik Amerika dari paruh kedua abad kedua puluh.Karyanya yang paling terkenal telah meraih Pulitzer, yatitu sebuah novel All The King’s Men (1946). Warren juga dikenang sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan teori kritis sastra. Metodenya yang dikenal sebagai “Kritik Baru” (New Criticism), adalah sistem analisis sastra yang berfokus tajam pada kualitas intrinsik suatu karya, bukan pada pengaruh luar dan konteks. Meskipun demikian, Warren lebih sering menempatkan dirinya sebagai seorang penyair, walupun kontribusi ilmiahnya di bidang sastra cukup mendominasi teori kajian kritis sastra hingga saat ini.
Sebagian besar karyanya yang monumental adalah transliterasi ayat-ayat suci (Bible) menjadi puisi dengan narasi yang panjang. Tema yang banyak diangkat adalah rasa bersalah manusia, keberadaan korupsi kejahatan dan moral, perlunya dan penemuan jati diri manusia, serta kemungkinan penebusan dosa manusia, Warren memperoleh penghargaan berlimpah, termasuk dua Pulitzer Prize dan National Book Award. Pada tahun 1986 Warren mendapat gelar dari asosiasi sastra negara bagian Amerika Serikat sebagai “the first official poet laureate of the United States” atau Penyair Resmi Kenamaan Amerika Serikat yang Pertama.
Sejarah Hidup Singkat
Warren lahir di Guthrie, negara bagian Kentucky, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan SMA, ia melanjutkan pendidikan militer pada US Naval Academy di Annapolis, Maryland. Riwayat pendidikan militernya berakhir saat mengalami cedera mata yang membuatnya dikeluarkan.
Selanjutnya Warren bergabung di Vanderbilt University Fakultas Teknik Kelautan selama beberapa minggu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke jurusan Sastra Inggris. Di bawah bimbingan Yohanes Crowe Ransom, instruktur bahasa Inggris pertamanya, Warren bergabung dengan "buronan" (fugitive). “Buronan” adalah sebuah serikat guru dan siswa di Vanderbilt. Serikat ini mengadakan kegiatan studi kritis terhadap karya sastra dan puisi, melalui diskusi rutin dan penerbitan majalah. Fugitive (bukan the fugitive yang disampaikan Snyder) bertujuan untuk membangun kesepahaman dan merekonstruksi pemikiran karya sastra klasik dengan model dekonstruksi makna kata. Hal ini ditandai dengan budaya egaliter yang dibangun selama sejarah perjalanannya (Under the Poetry, Cohen, essay 2002).
Warren melanjutkan studinya di Universitas California, Berkeley. Di sana ia bertemu Emma Brescia, yang kemudian menjadi istri pertamanya. Kecewa dengan sistem studi di California University, Warren pindah ke Universitas Yale dan melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Oxford.
Karyanya sastranya yang populer di masa itu, selain dari beberapa puisi pendek dan esai yang telah muncul sebelumnya di majalah, adalah biografi John Brown: The Making of a Martyr (1929). Setelah Warren menyelesaikan studi di Oxford pada tahun 1930, ia kembali ke Amerika untuk menikahi Brescia, dan mulai mengajar di Southwestern Presbyterian College dan Vanderbilt.
Pada tahun 1934, ia menjadi pengajar di Louisiana State University dan bergabung dengan profesor Cleanth Brooks dalam mendirikan lingkar studi ”Review Selatan” (Southern Review). Bersama dengan Brooks, Warren juga menyusun sebuah buku “ Understanding Poetry: An Anthology for College Students” (Memahami Puisi, Sebuah Antologi Untuk Mahasiswa (1938), sebuah teks kunci gerakan kritik “gaya baru” (New Criticism) yang kelak diusungnya. Sementara itu, upaya Warren untuk menulis puisi terus berlanjut hingga kumpulan puisinya yang berjudul “Thirty-Six Poems” (Tiga Puluh Enam-Puisi) diterbitkan tahun 1935.
Pada tahun 1944, Warren diangkat menjadi profesor di Universitas Minnesota, setelah menyelesaikan karya puisi “Selected Poems: 1923-1943”, dan dua novel: Night Rider (1939) dan At Heaven’s Gate (1943). Novel Night Rider (Pengendara Malam) pernah diangkat menjadi film layar lebar produksi Hollywood dan menjadi bahan diskusi klub dikusi mahasiswa UI tahun 1960. Soe Hok Gie membuka diskusi dengan kata-kata Warren dalam bukunya tersebut : “Tak ada yang tersisa pada malam selain pengendara terakhir. Sebab ia mengendarai ketakutan”.
Selama dekade berikutnya, Warren mengalami kekeringan total dalam komposisi puitis dan tidak dapat menyelesaikan puisi apapun. Dia memfokuskan energinya pada prosa, terutama dalam novelnya yang paling terkenal “Semua Pria Raja” dan sebuah esai kritis tentang karya Samuel Taylor C. “The Rime of the Ancient Mariner”. Essai ini berjudul "Sebuah Puisi dari Imajinasi Murni: Sebuah Percobaan dalam Membaca”.
Pada tahun 1950, Warren menetap di New England setelah menerima gelar profesor dari Universitas Yale. Berarti dalam jangka waktu 6 tahun ia telah memperoleh gelar profesor dari 2 universitas kenamaan, yaitu Minnesota dan Yale University. Warren bercerai pada tahun 1951 dan menikahi penulis Eleanor Clark di tahun berikutnya. Pernikahannya yang kedua telah memompa energi Warren untuk kembali menulis sajak. Hasilnya sebuah puisi naratif yang panjang berjudul : “Brother to Dragons: A Tale in Verse and Voices” [Bersaudara kepada Naga, Sebuah Kisah dalam Ayat dan Suara] terbit tahun 1953.
Pada musim gugur 1989, Warren meninggal karena kanker tulang di Stratton, Vermont. Namun karya-karyanya yang terdiri dari puisi, novel, kritik sastra, esai, biografi, naskah drama, dan cerpen telah mengabadikan nama Robert Penn Warren sebagai sastrawan dan tokoh humanis terkemuka di dunia.
Tinjauan Kritis Singkat
Warren telah memberikan kontribusi yang sangat bervariasi untuk sastra Amerika selama masa perang dingin. Ia mempublikasikan karya dengan beberapa tema puitik yang khas, antara lain “kejatuhan kemurnian” serta “konsekuensi Dosa dan Keterasingan”.
Beberapa pengamat yang menganalisis perkembangan Warren sebagai penyair, melihat perkembangan karya-karya awalnya yang penuh dengan formalitas telah berpadu dengan isu kesejarahan yang ambisius (terlihat pada novel : “Bruder di dekat-epik untuk Dragons”). Adapun karya-karya tahap awal setelah epik tersebut telah berkembang menjadi dialektika pribadi yang sarat pesan moral.
Dalam hal komposisi dan penggubahan syair puitisnya, James Wright telah mengamati Warren sebagai tokoh yang "mendistorsi kekerasan bahasa”. Menurutnya puisi Warent adalah bentukan dari komunikasi verbal dengan ciri khas yang saling mengikat, liris dengan penyampaian yang rendah hati dan tulus. James Wright juga mengkritik experimentalisme puitis Warren, yang rancak dengan ritme dan pola-pola struktural yang sangat terkendali ( Poetry Crticism; J.A. Wright 1967 ).
Selain Wright banyak komentator sastra Amerika pada tahun 1960-an telah menganggap Warren mengalami “ketimpangan diksi puitis”. Mereka menganggap Warren mengutip ayat-ayat dari kitab suci secara berlebihan dan sering menggunakan kata-kata yang canggung. Hal ini terjadi karena komposisi lirik yang disusun dengan cepat dan ingin meninggalkan kesan megah.
Sebagai seorang spritualis Kristen, Warren telah melakukan penyimpangan yang luar biasa dengan mengambil risiko menjadi penyair. Namun terobosan Warren terlihat jelas pada karya transisional seperti “Inkarnasi” dan “Audubon”, yang menggambarkan semangat baru dan keberanian dalam mewartakan injil (James Baldwin Criticism, Baldwin, France 1961)
Pada akhir 1970-an, kritikus Harold Bloom memelopori publik sastra Amerika untuk mendaulat Warren sebagai salah satu penyair besar dari tradisi abad kedua puluh. Hal ini didukung oleh barisan penyair Amerika terkemuka saat itu termasuk Robert Frost, Hart Crane, Wallace Stevens, William Carlos Williams, Ezra Pound, dan TS Eliot. (Arsip Sastra Dunia Vol-24, Perpustakaan Umum Propinsi Aquitaine, France)
Warren telah menghasilkan puisi yang orisinal dan visioner, serta menginspirasi sastrawan dunia. Publikasi dari The Collected Poems Robert Penn Warren pada tahun 1998 terbukti telah menjadi anugerah atas jasanya. Roeslan, DES yang pernah menjadi pengajar studi Anglophone di Nice University mengomentari buku tersebut : “relevansi puisi kontemporer yang diusung Warren telah terus menyusut, terutama pada karya-karya di akhir hayatnya. Meskipun demikian Warren telah berdiri sebagai salah satu tokoh utama abad kedua puluh Amerika dengan karya-karyanya yang brilian”. James Dickey telah megabadikan nama Warren dengas kalimat, "he invest us with the greatest and most exacting of all human powers: that of discovering and defining what we must be, within the thing that we are”.
“dia (Warren) telah menginvestasikan kepada kita dengan hal yang tersulit dan terhebat dari seluruh kekuatan manusiawi (yaitu ) : Menemukan dan memaknai tentang apa yang harus kita lakukan, dengan apa-apa yang kita miliki apa adanya”
(oleh : Lingsir Wengi Guntono)
Pendahuluan
Pada diskusi sastra di beberapa Grup Facebook, saya menjumpai nama Warren disebut berulang-ulang. Tergelitik untuk memperkenalkan sosok Warren kepada sahabat sastra yang budiman, saya mencoba menyusun sebuah tulisan ringan untuk menjelaskan sosok penulis Amerika yang inspiratif ini.
Seorang penulis serbaguna, dibedakan sebagai novelis dan kritikus, Warren dianggap sebagai salah satu penyair terbaik Amerika dari paruh kedua abad kedua puluh.Karyanya yang paling terkenal telah meraih Pulitzer, yatitu sebuah novel All The King’s Men (1946). Warren juga dikenang sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan teori kritis sastra. Metodenya yang dikenal sebagai “Kritik Baru” (New Criticism), adalah sistem analisis sastra yang berfokus tajam pada kualitas intrinsik suatu karya, bukan pada pengaruh luar dan konteks. Meskipun demikian, Warren lebih sering menempatkan dirinya sebagai seorang penyair, walupun kontribusi ilmiahnya di bidang sastra cukup mendominasi teori kajian kritis sastra hingga saat ini.
Sebagian besar karyanya yang monumental adalah transliterasi ayat-ayat suci (Bible) menjadi puisi dengan narasi yang panjang. Tema yang banyak diangkat adalah rasa bersalah manusia, keberadaan korupsi kejahatan dan moral, perlunya dan penemuan jati diri manusia, serta kemungkinan penebusan dosa manusia, Warren memperoleh penghargaan berlimpah, termasuk dua Pulitzer Prize dan National Book Award. Pada tahun 1986 Warren mendapat gelar dari asosiasi sastra negara bagian Amerika Serikat sebagai “the first official poet laureate of the United States” atau Penyair Resmi Kenamaan Amerika Serikat yang Pertama.
Sejarah Hidup Singkat
Warren lahir di Guthrie, negara bagian Kentucky, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan SMA, ia melanjutkan pendidikan militer pada US Naval Academy di Annapolis, Maryland. Riwayat pendidikan militernya berakhir saat mengalami cedera mata yang membuatnya dikeluarkan.
Selanjutnya Warren bergabung di Vanderbilt University Fakultas Teknik Kelautan selama beberapa minggu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke jurusan Sastra Inggris. Di bawah bimbingan Yohanes Crowe Ransom, instruktur bahasa Inggris pertamanya, Warren bergabung dengan "buronan" (fugitive). “Buronan” adalah sebuah serikat guru dan siswa di Vanderbilt. Serikat ini mengadakan kegiatan studi kritis terhadap karya sastra dan puisi, melalui diskusi rutin dan penerbitan majalah. Fugitive (bukan the fugitive yang disampaikan Snyder) bertujuan untuk membangun kesepahaman dan merekonstruksi pemikiran karya sastra klasik dengan model dekonstruksi makna kata. Hal ini ditandai dengan budaya egaliter yang dibangun selama sejarah perjalanannya (Under the Poetry, Cohen, essay 2002).
Warren melanjutkan studinya di Universitas California, Berkeley. Di sana ia bertemu Emma Brescia, yang kemudian menjadi istri pertamanya. Kecewa dengan sistem studi di California University, Warren pindah ke Universitas Yale dan melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Oxford.
Karyanya sastranya yang populer di masa itu, selain dari beberapa puisi pendek dan esai yang telah muncul sebelumnya di majalah, adalah biografi John Brown: The Making of a Martyr (1929). Setelah Warren menyelesaikan studi di Oxford pada tahun 1930, ia kembali ke Amerika untuk menikahi Brescia, dan mulai mengajar di Southwestern Presbyterian College dan Vanderbilt.
Pada tahun 1934, ia menjadi pengajar di Louisiana State University dan bergabung dengan profesor Cleanth Brooks dalam mendirikan lingkar studi ”Review Selatan” (Southern Review). Bersama dengan Brooks, Warren juga menyusun sebuah buku “ Understanding Poetry: An Anthology for College Students” (Memahami Puisi, Sebuah Antologi Untuk Mahasiswa (1938), sebuah teks kunci gerakan kritik “gaya baru” (New Criticism) yang kelak diusungnya. Sementara itu, upaya Warren untuk menulis puisi terus berlanjut hingga kumpulan puisinya yang berjudul “Thirty-Six Poems” (Tiga Puluh Enam-Puisi) diterbitkan tahun 1935.
Pada tahun 1944, Warren diangkat menjadi profesor di Universitas Minnesota, setelah menyelesaikan karya puisi “Selected Poems: 1923-1943”, dan dua novel: Night Rider (1939) dan At Heaven’s Gate (1943). Novel Night Rider (Pengendara Malam) pernah diangkat menjadi film layar lebar produksi Hollywood dan menjadi bahan diskusi klub dikusi mahasiswa UI tahun 1960. Soe Hok Gie membuka diskusi dengan kata-kata Warren dalam bukunya tersebut : “Tak ada yang tersisa pada malam selain pengendara terakhir. Sebab ia mengendarai ketakutan”.
Selama dekade berikutnya, Warren mengalami kekeringan total dalam komposisi puitis dan tidak dapat menyelesaikan puisi apapun. Dia memfokuskan energinya pada prosa, terutama dalam novelnya yang paling terkenal “Semua Pria Raja” dan sebuah esai kritis tentang karya Samuel Taylor C. “The Rime of the Ancient Mariner”. Essai ini berjudul "Sebuah Puisi dari Imajinasi Murni: Sebuah Percobaan dalam Membaca”.
Pada tahun 1950, Warren menetap di New England setelah menerima gelar profesor dari Universitas Yale. Berarti dalam jangka waktu 6 tahun ia telah memperoleh gelar profesor dari 2 universitas kenamaan, yaitu Minnesota dan Yale University. Warren bercerai pada tahun 1951 dan menikahi penulis Eleanor Clark di tahun berikutnya. Pernikahannya yang kedua telah memompa energi Warren untuk kembali menulis sajak. Hasilnya sebuah puisi naratif yang panjang berjudul : “Brother to Dragons: A Tale in Verse and Voices” [Bersaudara kepada Naga, Sebuah Kisah dalam Ayat dan Suara] terbit tahun 1953.
Pada musim gugur 1989, Warren meninggal karena kanker tulang di Stratton, Vermont. Namun karya-karyanya yang terdiri dari puisi, novel, kritik sastra, esai, biografi, naskah drama, dan cerpen telah mengabadikan nama Robert Penn Warren sebagai sastrawan dan tokoh humanis terkemuka di dunia.
Tinjauan Kritis Singkat
Warren telah memberikan kontribusi yang sangat bervariasi untuk sastra Amerika selama masa perang dingin. Ia mempublikasikan karya dengan beberapa tema puitik yang khas, antara lain “kejatuhan kemurnian” serta “konsekuensi Dosa dan Keterasingan”.
Beberapa pengamat yang menganalisis perkembangan Warren sebagai penyair, melihat perkembangan karya-karya awalnya yang penuh dengan formalitas telah berpadu dengan isu kesejarahan yang ambisius (terlihat pada novel : “Bruder di dekat-epik untuk Dragons”). Adapun karya-karya tahap awal setelah epik tersebut telah berkembang menjadi dialektika pribadi yang sarat pesan moral.
Dalam hal komposisi dan penggubahan syair puitisnya, James Wright telah mengamati Warren sebagai tokoh yang "mendistorsi kekerasan bahasa”. Menurutnya puisi Warent adalah bentukan dari komunikasi verbal dengan ciri khas yang saling mengikat, liris dengan penyampaian yang rendah hati dan tulus. James Wright juga mengkritik experimentalisme puitis Warren, yang rancak dengan ritme dan pola-pola struktural yang sangat terkendali ( Poetry Crticism; J.A. Wright 1967 ).
Selain Wright banyak komentator sastra Amerika pada tahun 1960-an telah menganggap Warren mengalami “ketimpangan diksi puitis”. Mereka menganggap Warren mengutip ayat-ayat dari kitab suci secara berlebihan dan sering menggunakan kata-kata yang canggung. Hal ini terjadi karena komposisi lirik yang disusun dengan cepat dan ingin meninggalkan kesan megah.
Sebagai seorang spritualis Kristen, Warren telah melakukan penyimpangan yang luar biasa dengan mengambil risiko menjadi penyair. Namun terobosan Warren terlihat jelas pada karya transisional seperti “Inkarnasi” dan “Audubon”, yang menggambarkan semangat baru dan keberanian dalam mewartakan injil (James Baldwin Criticism, Baldwin, France 1961)
Pada akhir 1970-an, kritikus Harold Bloom memelopori publik sastra Amerika untuk mendaulat Warren sebagai salah satu penyair besar dari tradisi abad kedua puluh. Hal ini didukung oleh barisan penyair Amerika terkemuka saat itu termasuk Robert Frost, Hart Crane, Wallace Stevens, William Carlos Williams, Ezra Pound, dan TS Eliot. (Arsip Sastra Dunia Vol-24, Perpustakaan Umum Propinsi Aquitaine, France)
Warren telah menghasilkan puisi yang orisinal dan visioner, serta menginspirasi sastrawan dunia. Publikasi dari The Collected Poems Robert Penn Warren pada tahun 1998 terbukti telah menjadi anugerah atas jasanya. Roeslan, DES yang pernah menjadi pengajar studi Anglophone di Nice University mengomentari buku tersebut : “relevansi puisi kontemporer yang diusung Warren telah terus menyusut, terutama pada karya-karya di akhir hayatnya. Meskipun demikian Warren telah berdiri sebagai salah satu tokoh utama abad kedua puluh Amerika dengan karya-karyanya yang brilian”. James Dickey telah megabadikan nama Warren dengas kalimat, "he invest us with the greatest and most exacting of all human powers: that of discovering and defining what we must be, within the thing that we are”.
“dia (Warren) telah menginvestasikan kepada kita dengan hal yang tersulit dan terhebat dari seluruh kekuatan manusiawi (yaitu ) : Menemukan dan memaknai tentang apa yang harus kita lakukan, dengan apa-apa yang kita miliki apa adanya”
Mengenal Epigram dalam Puisi
oleh Liweng-Gun
Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait. Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian. Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.
Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial. Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar Domitian, Nerva dan Trajan. Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal dan romantika pendidikan di masa itu.
Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain : John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.
Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram :
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.
Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya? Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas
Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.
Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga
Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)
Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker
Transliterasi :
Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas
Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”
everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy
contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung
(Liweng-Gun)
Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”
Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.
Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait. Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian. Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.
Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial. Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar Domitian, Nerva dan Trajan. Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal dan romantika pendidikan di masa itu.
Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain : John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.
Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram :
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.
Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya? Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas
Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.
Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga
Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)
Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker
Transliterasi :
Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas
Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”
everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy
contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung
(Liweng-Gun)
Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”
Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)