QLC, sebuah lembaga penyadaran budaya litera
oleh Tosa Poetra
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu program dan kewajiban pemerintah, sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa pemerintah telah mengadakan berbagai program di antaranya dengan adanya sekolahan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi, sebagai wadah pendidikan dan sarana belajar-mengajar. Berbagai hal dilakukan untuk mendukung hal tersebut, mulai pengucuran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), pemberian penghargaan pada siswa dan guru berprestasi serta pemberian sertivikasi guru agar dapat semakin meningkatkan kualitas pendidikannya, juga berbagai program yang lain, namun ada satu hal yang mungkin terlupa yaitu rendahnya minat baca tulis di kalangan pelajar dan masyarakat umum, sedangkan budaya baca tulis merupakan kunci keberhasilan program pencerdasan bangsa.
Pemerintah juga telah menyediakan perpustakaan baik keliling maupun permanen di setiap Kota, Kabupaten bahkan hampir di setiap Desa disediakan, berbagai iklan tentang pentingnya membaca pun muncul ruang media, namun siapa yang menghiraukan iklan tersebut? mungkin anak-anak tertarik pada gambar dan adegan yang ada, dan siapa yang akan membaca buku yang berjubel di rak perpustakaan? Saya rasa kurang dari 10 % warga yang berkunjung ke perpustakaan. Inilah yang menjadi PR bagi kita dan pemerintah, bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat baca-tulis.
Quantum Litera Center (QLC) adalah sebuah lembaga penyadaran budaya literasi di Trenggalek yang sejak didirikan tahun 2008, yang tepatnya dinyatakan resmi bersamaan dengan hari pendidikan nasional tersebut, sampai sekarang lembaga yang digagas dan dipimpin Nurani Soyomukti seorang penulis dari Margomulyo tersebut terus eksis dengan berbagai kegiatan, mulai seminar, perlombaan, pelatihan menulis maupun pentas baca puisi yang rutin digelar setiap malam minggu awal bulan yang hampir setiap bulan dikunjungi penulis dari luar kota seperti Ari Nurdiana dan Arim Kamandaka dari Ponorogo, Hardo sayoko dari Ngawi, juga Hadi Sutarno dari Jombang pada Maret kemarin. Di bulan April Hadi Sutarno juga berkunjung lagi dengan mengajak Mahendra PW dan beberapa mahasiswa dari STAIN Tulungagung juga dari Kediri, berikutnya di bulan Mei kedatangan Wina Bojonegoro yang membedah novelnya The Souls yang berbarengan dengan pengumuman lomba menulis puisi dan cerpen yang diadakan QLC, Juni ini kedatangan Nurel Javisaqri dari Lamongan yang membedah bukunya Menggugat kepenyairan Sutardji. Sekurang-kurangnya QLC mengadakan seminar menulis dua kali dalam setahun juga diklat menulis seperti yang dilakukan di Panggul pada bulan Juni ini juga setelah sebelumnya meresmikan pembentukan QLC cabang Panggul.
Kehadiran Nurani Soyomukti, alumni UNEJ, setelah bertahun-tahun di Jakarta, kepulangannya dengan konsep QLC yang ditawarkan, bak gayung bersambut ketika bertemu dengan Toni Saputra dan Mahasiswa STKIP PGRI Trenggalek Prasetiawan, Kendra, Anas yang mendapat dukungan dari beberapa Guru, penulis dan tokoh politik lain di Trenggalek, antaranya Suripto ( anggota KPUD Trenggalek), Prio Suroso ( guru SMPN 3 Munjungan), Machsun Ismail (WaBup ketika itu) juga Sri Purnanto ( guru SMAN Panggu)l, Bonari Nabonenar ( sastrawan senior asal Cakul Dongko), Purwadi Suroso, Haris Yudianto ( Dosen STKIP PGRI Trenggalek ) juga Misbahus Surur dan Muh Faizun (mahasiswa UIN Malang asal Trenggalek), Farid bactiar ( mahasiswa UNM asal Trenggalek) dan tokoh yang lain yang akhirnya melahirkan Komunitas Arisan Sastra nyata telah memunculkan perubahan yang signivikan pada budaya litera di Trenggalek terbukti beradaan QLC dan Arisan Sastra memicu munculnya penerbit baru di Trenggalek ( Sembilan Mutiara publishing) dan dari QLC telah muncul dua penulis dengan buku antologi puisinya, Jalanan di Kotaku ( Toni Saputra) dan Pertanggung Jawaban jiwa (Prasetiawan0, juga muncul Antologi 9 penyair Trenggalek, Antologi Lazuardi ( Muhtar anas ) dan Antologi Ngunggun api perubahan ( Muh Faizun).
Selama ini kegiatan QLC mayoritas didukung oleh dana swadaya anggota yang ada, seharusnya pemerintah berterimakasih dan mendukung pada QLC yang telah membangun penyadaran Literasi yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, pemerintah seharusnya membangun lembaga penyadaran litera dan mendanai penuh kegiatannya dan selama ini menurut hemat saya belum ada aktifitas pemerintah terkait hal tersebut, nah dan sekarang telah ada QLC yang ada tanpa harus dibangun pemerintah dan selama 3 tahun berjalan dengan swadaya, apakah pemerintah tetap akan membiarkan QLC hidup sendiri? jika demikian tentu tidak salah jika dikatakan pemerintah kurang perhatian pada penyadaran litera. Dan meskipun demikian tekat QLC membangun penyadaran litera tidak akan surut, meski dengan dana seadanya tetap akan eksis, seperti yang diadakan kali ini, mengadakan lomba menulis dengan tema pengembangan penyadaran litera dengan hadiah 23 buku Nurani Soyomukti. Berikut link sayembara menulis tersebut :
http://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=10150175328467609
Pada bulan Juli ini Arisan Sastra trenggalek Telah memasuki episode 11, yang akan dilaksanakan di Trenggalek Pada hari Saptu tanggal 2 nanti, mulai pukul 19:00 sd selesei, dan masih seperti biasa QLC menyebar undangan terbuka melalui SMS maupun Facebook, mengundang kehadiran siapaun dan dari mana pun untuk dapat ikut serta berperan dalam kegiatan tersebut ubtuk ikut menyumbangkan fikiran maupun karya sastra yang sepeti biasa dalam agenda tersebut di-isi dengan orasi budaya baca puisi dan diskusi seputar karya sastra juga bedah buku. bagi rekan-dari dalam maupun luar kota yang berkenan hadir, monggo kita tunggu. salam sastra Budaya.
Trenggalek
1 Juni 2011
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Juli 2011
Membaca Kaki Waktu(sehimpun puisi 12 penyair perempuan muda Makasar)
Membaca Kaki Waktu(sehimpun puisi 12 penyair perempuan muda Makasar)
oleh Tosa Poetra
Senang sangat membaca puisi-puisi yang terkumpul dalam buku Kaki Waktu, terbitan kendi aksara juni 2011, isbn 978-979-15833-9-0.
Bolak-balik saya baca buku yang dikuratori dan pengantari oleh M. Aan Mansyur tersebut, yang ditambahkan dengan endorsmen dari : Aslan Abidin, penyair sekaligus dosen FBS UNM Makasar dan Khrisna Pabichara, di sampul belakang.
Buku yang memuat 84 judul puisi karya 12 penyair perempuan muda Makasar tersebut begitu mengesankan saya, bagaimana tidak 12 perempuan muda Makasar yang setahu saya di antaranya guru bahasa Ingris, guru biologi, terlebih di sana ada Dalasari Pera, yang karya cerpenya telah saya kenal sejak 2010 kemarin.
Saya sangat merasa senang mengetahui ini semua, bung Karno dan bung Hatta pun saya rasa tersenyum juga, bagaimana tidak, jika hal sedemikian berlangsung dan terus berkembang maka cita-cita bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa telah di ambang mata. 12 perempuan bersatu menulis dan menerbitkan antologi puisi, jika di setiap kota ada 12 perempuan seperti mereka, yang tahun depan akan membikin buku antologi tunggal semua, tentu dunia perbukuan dan kesusastraan Indonesia akan berjaya mengalahkan negeri manca.
Entah mesthi saya mulai apresiasi ini dari mana, yang tentunya saya tidak mengambil landasan teori dan sebagainya yang saya tidak bisa, toh dengan seperti ini saya pikir tidak masalah, sebab ini bukan apresiasi untuk kajian ilmiah, ini cuma kesenangan saya setelah menikmati buku tersebut, saya tidak banyak hafal puisi yang ada di sana, cuma beberapa selalu njangget di otak saya dan bikin jatuh cinta, semisal : telegram rindu yang ditulis Reni Purnama, di puisi tersebut kata yang sederhana telah disulap menjadi luar biasa, puisi yang mengisahkan kerinduan seorang ibu pada Samijun anaknya yang merantau, penulis melukiskan betapa rindu itu mencekam ibunda dengan menuliskan bahwa mata sang emak telah rabun, tak mampu lagi melihat rindu, sementara si anak menjawabnya dengan menyampaikan bahwa si anak minggu depan pulang membawa sepasang kaca mata untuk membaca rindu bersama, sungguh kontemplatif menurut saya, seolah melihat betapa kontemplatif sajak aku ingin karya Sapardi.
Demikian juga seorang Dalasari pera mengungkapkan tentang Amnesia seorang ibu yang telah lupa menaruh bola mata di daun pintu . . .,juga dalam puisi Mata bunting, dengan pengambilan diksi mata bunting tersebut tentu dapat dirasa, betapa sebenarnya kesedihan mendera, hingga terlalu banya menangis sampai mata menjadi bengkak, tapi penulis telah memilih kata bunting untuk penyebutan bengkak, sungguh diksi yang luar biasa menurut saya.
Masih banyak lagi keunikan dan keindahan yang disuguhkan Reni Purnama dan Dalasari pera juga 10 penulis lainnya yang tentu tak dapat saya terakan di catatan sederhana ini semua.
Dan saya pikir, silahkan pembaca mencari dan menikmati sendiri keindahan dalam buku tersebut yang saya rasa tentu tidak akan menyesal membaca, memiliki buku tersebut.
Hal tersebut jelas telah membikin saya makin jatuh cinta pada Makasar, pada Sulawesi selatan, Juga Jene Ponto dengan pantai karsut, dengan sejarah putri Tumanurung dari Arung keke, ah entah kapan kaki ini dibawa waktu menginjak ke sana.
Terakir saya sampaikan, selamat dan sukses pada Dalasari Pera, Reni Purnama, Andi Tenriola dan lainya, semoga terus eksis di dunia perpuisian Indonesia.
Hayo . . .yang lain dari Makasar, Dari pulau lain Indonesia, kapan menyusul, jangan mau kalah dengan mereka.
Salam Sastra Budaya.
Trenggalek, 14 Juli 2011.
oleh Tosa Poetra
Senang sangat membaca puisi-puisi yang terkumpul dalam buku Kaki Waktu, terbitan kendi aksara juni 2011, isbn 978-979-15833-9-0.
Bolak-balik saya baca buku yang dikuratori dan pengantari oleh M. Aan Mansyur tersebut, yang ditambahkan dengan endorsmen dari : Aslan Abidin, penyair sekaligus dosen FBS UNM Makasar dan Khrisna Pabichara, di sampul belakang.
Buku yang memuat 84 judul puisi karya 12 penyair perempuan muda Makasar tersebut begitu mengesankan saya, bagaimana tidak 12 perempuan muda Makasar yang setahu saya di antaranya guru bahasa Ingris, guru biologi, terlebih di sana ada Dalasari Pera, yang karya cerpenya telah saya kenal sejak 2010 kemarin.
Saya sangat merasa senang mengetahui ini semua, bung Karno dan bung Hatta pun saya rasa tersenyum juga, bagaimana tidak, jika hal sedemikian berlangsung dan terus berkembang maka cita-cita bangsa mencerdaskan kehidupan bangsa telah di ambang mata. 12 perempuan bersatu menulis dan menerbitkan antologi puisi, jika di setiap kota ada 12 perempuan seperti mereka, yang tahun depan akan membikin buku antologi tunggal semua, tentu dunia perbukuan dan kesusastraan Indonesia akan berjaya mengalahkan negeri manca.
Entah mesthi saya mulai apresiasi ini dari mana, yang tentunya saya tidak mengambil landasan teori dan sebagainya yang saya tidak bisa, toh dengan seperti ini saya pikir tidak masalah, sebab ini bukan apresiasi untuk kajian ilmiah, ini cuma kesenangan saya setelah menikmati buku tersebut, saya tidak banyak hafal puisi yang ada di sana, cuma beberapa selalu njangget di otak saya dan bikin jatuh cinta, semisal : telegram rindu yang ditulis Reni Purnama, di puisi tersebut kata yang sederhana telah disulap menjadi luar biasa, puisi yang mengisahkan kerinduan seorang ibu pada Samijun anaknya yang merantau, penulis melukiskan betapa rindu itu mencekam ibunda dengan menuliskan bahwa mata sang emak telah rabun, tak mampu lagi melihat rindu, sementara si anak menjawabnya dengan menyampaikan bahwa si anak minggu depan pulang membawa sepasang kaca mata untuk membaca rindu bersama, sungguh kontemplatif menurut saya, seolah melihat betapa kontemplatif sajak aku ingin karya Sapardi.
Demikian juga seorang Dalasari pera mengungkapkan tentang Amnesia seorang ibu yang telah lupa menaruh bola mata di daun pintu . . .,juga dalam puisi Mata bunting, dengan pengambilan diksi mata bunting tersebut tentu dapat dirasa, betapa sebenarnya kesedihan mendera, hingga terlalu banya menangis sampai mata menjadi bengkak, tapi penulis telah memilih kata bunting untuk penyebutan bengkak, sungguh diksi yang luar biasa menurut saya.
Masih banyak lagi keunikan dan keindahan yang disuguhkan Reni Purnama dan Dalasari pera juga 10 penulis lainnya yang tentu tak dapat saya terakan di catatan sederhana ini semua.
Dan saya pikir, silahkan pembaca mencari dan menikmati sendiri keindahan dalam buku tersebut yang saya rasa tentu tidak akan menyesal membaca, memiliki buku tersebut.
Hal tersebut jelas telah membikin saya makin jatuh cinta pada Makasar, pada Sulawesi selatan, Juga Jene Ponto dengan pantai karsut, dengan sejarah putri Tumanurung dari Arung keke, ah entah kapan kaki ini dibawa waktu menginjak ke sana.
Terakir saya sampaikan, selamat dan sukses pada Dalasari Pera, Reni Purnama, Andi Tenriola dan lainya, semoga terus eksis di dunia perpuisian Indonesia.
Hayo . . .yang lain dari Makasar, Dari pulau lain Indonesia, kapan menyusul, jangan mau kalah dengan mereka.
Salam Sastra Budaya.
Trenggalek, 14 Juli 2011.
Membaca Trilogi Kesadaran Karya Nurel Javisarqi
Membaca Trilogi Kesadaran Karya Nurel Javisarqi
oleh Tosa Poetra
Seperti yang ditulis di sampul belakang buku Trilogi Kesadaran (Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran danRras Pemberontak) karya Nurel Javisarqi terbitan Pustaka Pujangga 2006, disampaikan pada larik terakir sampul belakang “Trilogi kesadaran, buah karya dari pribadi penuh rayu pemikiran akan membawa anda ke cakrawala pembebasan paling padang njingglang", membaca buku tersebut memang gaya penyampaian penulis membikin saya merasa sedang berhadapan langsung dan dituntun menuju penyadaran yang paling padang njingglang, mendapat pencerahan yang terang benderang.
Di mata saya, penulis(Njav) bukan cuma sekedar penyair atau esais pada umumnya, namun terlebih sufistis, dalam rangkaian kalimat yang komunikatif penulis menyampaikan segala dengan mendasarkan pada sang maha penyebab yaitu pada Allah, seperti hal tertulis pada prolog kausalitas yang rahmatan lil alamin, halaman 52 paragraf pertama, larik terakir "penulis hanyalah anak barusan belajar dan sedang getolnya pelajari kebodohan. Sebabnya, hanya Ridho-Nya yang kita damba".
Jika pada lazimnya beranggap ada hukum sebab akibat namun di sini sebagaimana tertulis di halaman 54 penulis kemukakan keterangan tentang : sang penyebab segala sebab (1), penyebab yang menyebabkan(2), penyebab mendekati pengakibat(3), pengakibatan menuju akibat akhir(4), yang semua dijlentrehkan penulis sampai halaman 66.
Bertolak hal tersebut maka, jika saya mendapatkan penyadaran yang paling padang jingglang adalah karena 4 hal:
1. Sang maha penyebab menakdirkan saya bertemu penulis, karya penulis dan penulis dapat menuliskan kitab penyadaran dan semua yang terjadi.
2. Guru saya disekolah mengajari menulis dan membaca hingga saya dapat membaca.
3. Saya membaca tulisan penulis menyebabkan saya tahu.
4. saya tahu apa yang disampaikan penulis dan menyebabkan saya sadar.
Yang kesemua itu juga kembali bertolak pada hukum sebab akibat.
Andaipun sebelum ini saya tengah semaput atau setengah sadar ataupun sadar, namun apa yang saya tulis antara sadar dan tidak sadar ini adalah merupakan rangkuman kesadaran setelah membaca trilogi kesadaran yang di dalamnya menyadarkan tentang banyak hal, menyadarkan bagaimana berbudaya, beragama, berINDONESIA, juga menyadarkan bagaimana memandang waninta, berpuisi, pemberontakan dan hal lain yang tak dapat semua saya tuturkan di sini, dan andaipun ada kesalahan dalam menulis itu semua karena keterbatasan dan kekurang sadaran saya.
Bukan cuma dalam buku tersebut, menyadarkan dalam banyak hal namun secara langsung maupun tak langsung ketika berjumpa saya dua bulan yang lalu, menyadarkan saya akan pentingnya menghargai buku, mulai menatanya sampai membaca dan memahami juga bagaimana harusnya menulis.
Dari banyak hal penyadaran yang termuat dalam trilogi tersebut yang njangget di otak dangkal setengah sadar saya antaranya ketika penulis mengungkapkan bahwa perkalian itu hukum sebab akibat atau lipatan
3 x -2 = -6 (hukum kebalikan universal)
0 x -2 = 0 (kekuasaan Allah)
-1 x -2= 2(hukum setan, lesbian dan korup).
Hal 161 yang dijlentrehkan sampai halaman 164.
Dan kembali pada halaman 17 paragraf pertama, yang ini seakan menyepakati pemahaman saya dan seharusnya memang demikian.
"atau kita memahami nilai agama dengan keliru, memaknai introspeksi dengan berdiam diri, memaknai peribadatan hanya di rumah ibadah, artikan amal jika ada iming-iming kembalian lebih di dunia dan akhirat. Tertangkaplah di sini bahwa bangsa berwatak pesimis, anaknya bermental penjudi. Tidakkah memberikan sesuatu dengan berharap imbalan di suatu waktu akan datang, merupakan wujud perjudian terselubung?.
Ya, segala sesuatu harusnya dilaksanakan atas dasar iklas seiklasnya, tanpa mengharap apapun, sebab tanpa kita harap pun Allah pasti tidak akan merelakan, membiarkan keringat hambanya menetes dan kering dengan sia-sia.
Jadi dalam beribadah harus iklas, sebagai bentuk sukur atas segala nikmat yang telah diberikan, sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban kita yaitu bahwa sesungguhnya kita diciptakan hanya untuk satu perkara, beribadah pada-Nya. Kita diciptakan bukan untuk menjadi peminta-minta meski Allah senang pada hamba yang mau memohon, namun jika ujung-ujungnya beribadah dengan mengharap imbalan lebih kan sama halnya judi, tombok togel, tombok seribu berharap dapat 60ribu, apa kita mau diciptakan sebagai demikian? Saya rasa tidak.
Saya pun berpendapat demikian sejak lama, meski mendapat pertentangan dari berapa kawan, jadi ketika mendapati paragraf tersebut saya merasa dapat kawan sepandangan dan dapat dukungan.
Kembali pada hukum sebab akibat, tentu benarlah segala karena sang maha penyebab, atas ijin dan kehendak Allah, bagaimana tidak, jangankan untuk melakukan sesuatu, bernafas atau tidur saja tanpa ijin dan kehendak Allah tak mungkin bisa.
Lantas bagaimana dengan keberadaan penjahat, koruptor dan sebagainya? Apa mereka juga atas ijin dan kehendak Allah? Kurasa dalam pandanganku yang setengah sadar adalah “IYA”, bagaimana tidak? Bagaimana orang dapat jadi jahat? Dapat korupsi jika tidak dikehendaki atau atas ijin Tuhan? Mau nafas saja tak bisa, kalau tak diijinkan dan dikehendaki jadi koruptor mengapa tidak dimatikan saja sebelum korupsi? Sebelum berbuat jahat?
Ya, orang menjadi jahat karena tergoda setan. Nah, siapa yang menciptakan setan? buat apa setan diciptakan? orang yang tergoda setan, berbuat jahat nantinya ditempatkan di neraka ketika di akhirat dan mendapat cela di dunia, jika mereka tidak dibiarkan jahat, lantas siapa penghuni neraka nanti?
Buat apa neraka diciptakan? sia-sia bukan? demikian juga penjara, jika tak ada penjahat, siapa yang akan dipenjara? dan itu akan membuat pengangguran besar, sebab jika tak ada penjahat maka tak ada polisi, tak ada pegawai penjara, mau dikemanakan para pekerja hukum tersebut? tak perlu juga pegawai pembuat peraturan perundangan tentunya.
Terlebih hal tersebut, orang dibiarkan jahat agar dapat menjadi contoh dan pelajaran bagi orang lain, agar tahu efek buruk berbuat jahat, di dunia dicela, dipenjara, di akhirat disiksa neraka.
Yang hal tersebut telah diberikan kesempatan bagi manusia untuk memilih menjadi baik atau buruk dalam peran kehidupan. Ibarat sinetron, sutradara menyilahkan atau bahkan telah memilihkan peran bagi pemain untuk memerankan antagonis atau protagonis, mana yang sesuai dan dapat dijiwai.
Hidup ibarat juga kita disediakan televisi dengan beratus cenel dan agenda acara masing-masing, mau putar chanel mana terserah kita, misal SCTV dengan film kartun, RCTI dengan berita aktual, Indosiar dengan infotaimen, ANTV dengan siaran dakwah dan sebagainya, demikian juga hidup, memilih jadi jahat dengan resikonya, menjadi baik dengan segala imbalannya yang tanpa kita harap atau kita minta pasti diberikan.
Kita kembalikan lagi pada sebab Sang maha sebab, yaitu semua atas kehendak Tuhan. Kita memang telah disediakan pilihan namun jangankan memilih bernafas saja tentu tak dapat tanpa izin Tuhan, nah lantas orang jadi jahat? kehendak Tuhankah? atas ijin Tuhankah?
Apa dengan demikian lantas jika ada orang salah itu berarti kesalahan Tuhan? tentu tidak, sebab Tuhan maha benar, nah kalau semua atas kehendak Tuhan tapi Tuhan tak mau salah, apa berari Tuhan sekehendak hatinya? ya karena Tuhan maha berkehendak, kalau begitu Tuhan mau menang sendiri? itu urusan Tuhan, karena dia adalah Tuhan, maha segalanya, mau apa saja terserah Dia, kalau tidak demikian tentu bukan Tuhan namanya.
Namun demikian Tuhan selalu menghendaki umatnya menjadi yang terbaik, menepati kodrat penciptaan sebagai rohmatan lilalamin, sebagai walinya di muka bumi.
Demikian keadaan setengah sadar yang dapat saya tuturkan, semoga saya akan benar menjadi sadar dan setelah kita membaca Trilogi kesadaran kita akan sadar sesadarnya. Andaipun yang saya uraikan menyimpang dari kesadaran, dan banyak ngelantur dari buku Trilogi Kesadaran, ya mungkin ini adalah pengaruh dari kekurang sadaran,semoga saya akan disadarkan. Jika ada benar ini dari Allah, jika ada salah itu dari saya. Sebab Allah maha benar.
oleh Tosa Poetra
Seperti yang ditulis di sampul belakang buku Trilogi Kesadaran (Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran danRras Pemberontak) karya Nurel Javisarqi terbitan Pustaka Pujangga 2006, disampaikan pada larik terakir sampul belakang “Trilogi kesadaran, buah karya dari pribadi penuh rayu pemikiran akan membawa anda ke cakrawala pembebasan paling padang njingglang", membaca buku tersebut memang gaya penyampaian penulis membikin saya merasa sedang berhadapan langsung dan dituntun menuju penyadaran yang paling padang njingglang, mendapat pencerahan yang terang benderang.
Di mata saya, penulis(Njav) bukan cuma sekedar penyair atau esais pada umumnya, namun terlebih sufistis, dalam rangkaian kalimat yang komunikatif penulis menyampaikan segala dengan mendasarkan pada sang maha penyebab yaitu pada Allah, seperti hal tertulis pada prolog kausalitas yang rahmatan lil alamin, halaman 52 paragraf pertama, larik terakir "penulis hanyalah anak barusan belajar dan sedang getolnya pelajari kebodohan. Sebabnya, hanya Ridho-Nya yang kita damba".
Jika pada lazimnya beranggap ada hukum sebab akibat namun di sini sebagaimana tertulis di halaman 54 penulis kemukakan keterangan tentang : sang penyebab segala sebab (1), penyebab yang menyebabkan(2), penyebab mendekati pengakibat(3), pengakibatan menuju akibat akhir(4), yang semua dijlentrehkan penulis sampai halaman 66.
Bertolak hal tersebut maka, jika saya mendapatkan penyadaran yang paling padang jingglang adalah karena 4 hal:
1. Sang maha penyebab menakdirkan saya bertemu penulis, karya penulis dan penulis dapat menuliskan kitab penyadaran dan semua yang terjadi.
2. Guru saya disekolah mengajari menulis dan membaca hingga saya dapat membaca.
3. Saya membaca tulisan penulis menyebabkan saya tahu.
4. saya tahu apa yang disampaikan penulis dan menyebabkan saya sadar.
Yang kesemua itu juga kembali bertolak pada hukum sebab akibat.
Andaipun sebelum ini saya tengah semaput atau setengah sadar ataupun sadar, namun apa yang saya tulis antara sadar dan tidak sadar ini adalah merupakan rangkuman kesadaran setelah membaca trilogi kesadaran yang di dalamnya menyadarkan tentang banyak hal, menyadarkan bagaimana berbudaya, beragama, berINDONESIA, juga menyadarkan bagaimana memandang waninta, berpuisi, pemberontakan dan hal lain yang tak dapat semua saya tuturkan di sini, dan andaipun ada kesalahan dalam menulis itu semua karena keterbatasan dan kekurang sadaran saya.
Bukan cuma dalam buku tersebut, menyadarkan dalam banyak hal namun secara langsung maupun tak langsung ketika berjumpa saya dua bulan yang lalu, menyadarkan saya akan pentingnya menghargai buku, mulai menatanya sampai membaca dan memahami juga bagaimana harusnya menulis.
Dari banyak hal penyadaran yang termuat dalam trilogi tersebut yang njangget di otak dangkal setengah sadar saya antaranya ketika penulis mengungkapkan bahwa perkalian itu hukum sebab akibat atau lipatan
3 x -2 = -6 (hukum kebalikan universal)
0 x -2 = 0 (kekuasaan Allah)
-1 x -2= 2(hukum setan, lesbian dan korup).
Hal 161 yang dijlentrehkan sampai halaman 164.
Dan kembali pada halaman 17 paragraf pertama, yang ini seakan menyepakati pemahaman saya dan seharusnya memang demikian.
"atau kita memahami nilai agama dengan keliru, memaknai introspeksi dengan berdiam diri, memaknai peribadatan hanya di rumah ibadah, artikan amal jika ada iming-iming kembalian lebih di dunia dan akhirat. Tertangkaplah di sini bahwa bangsa berwatak pesimis, anaknya bermental penjudi. Tidakkah memberikan sesuatu dengan berharap imbalan di suatu waktu akan datang, merupakan wujud perjudian terselubung?.
Ya, segala sesuatu harusnya dilaksanakan atas dasar iklas seiklasnya, tanpa mengharap apapun, sebab tanpa kita harap pun Allah pasti tidak akan merelakan, membiarkan keringat hambanya menetes dan kering dengan sia-sia.
Jadi dalam beribadah harus iklas, sebagai bentuk sukur atas segala nikmat yang telah diberikan, sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban kita yaitu bahwa sesungguhnya kita diciptakan hanya untuk satu perkara, beribadah pada-Nya. Kita diciptakan bukan untuk menjadi peminta-minta meski Allah senang pada hamba yang mau memohon, namun jika ujung-ujungnya beribadah dengan mengharap imbalan lebih kan sama halnya judi, tombok togel, tombok seribu berharap dapat 60ribu, apa kita mau diciptakan sebagai demikian? Saya rasa tidak.
Saya pun berpendapat demikian sejak lama, meski mendapat pertentangan dari berapa kawan, jadi ketika mendapati paragraf tersebut saya merasa dapat kawan sepandangan dan dapat dukungan.
Kembali pada hukum sebab akibat, tentu benarlah segala karena sang maha penyebab, atas ijin dan kehendak Allah, bagaimana tidak, jangankan untuk melakukan sesuatu, bernafas atau tidur saja tanpa ijin dan kehendak Allah tak mungkin bisa.
Lantas bagaimana dengan keberadaan penjahat, koruptor dan sebagainya? Apa mereka juga atas ijin dan kehendak Allah? Kurasa dalam pandanganku yang setengah sadar adalah “IYA”, bagaimana tidak? Bagaimana orang dapat jadi jahat? Dapat korupsi jika tidak dikehendaki atau atas ijin Tuhan? Mau nafas saja tak bisa, kalau tak diijinkan dan dikehendaki jadi koruptor mengapa tidak dimatikan saja sebelum korupsi? Sebelum berbuat jahat?
Ya, orang menjadi jahat karena tergoda setan. Nah, siapa yang menciptakan setan? buat apa setan diciptakan? orang yang tergoda setan, berbuat jahat nantinya ditempatkan di neraka ketika di akhirat dan mendapat cela di dunia, jika mereka tidak dibiarkan jahat, lantas siapa penghuni neraka nanti?
Buat apa neraka diciptakan? sia-sia bukan? demikian juga penjara, jika tak ada penjahat, siapa yang akan dipenjara? dan itu akan membuat pengangguran besar, sebab jika tak ada penjahat maka tak ada polisi, tak ada pegawai penjara, mau dikemanakan para pekerja hukum tersebut? tak perlu juga pegawai pembuat peraturan perundangan tentunya.
Terlebih hal tersebut, orang dibiarkan jahat agar dapat menjadi contoh dan pelajaran bagi orang lain, agar tahu efek buruk berbuat jahat, di dunia dicela, dipenjara, di akhirat disiksa neraka.
Yang hal tersebut telah diberikan kesempatan bagi manusia untuk memilih menjadi baik atau buruk dalam peran kehidupan. Ibarat sinetron, sutradara menyilahkan atau bahkan telah memilihkan peran bagi pemain untuk memerankan antagonis atau protagonis, mana yang sesuai dan dapat dijiwai.
Hidup ibarat juga kita disediakan televisi dengan beratus cenel dan agenda acara masing-masing, mau putar chanel mana terserah kita, misal SCTV dengan film kartun, RCTI dengan berita aktual, Indosiar dengan infotaimen, ANTV dengan siaran dakwah dan sebagainya, demikian juga hidup, memilih jadi jahat dengan resikonya, menjadi baik dengan segala imbalannya yang tanpa kita harap atau kita minta pasti diberikan.
Kita kembalikan lagi pada sebab Sang maha sebab, yaitu semua atas kehendak Tuhan. Kita memang telah disediakan pilihan namun jangankan memilih bernafas saja tentu tak dapat tanpa izin Tuhan, nah lantas orang jadi jahat? kehendak Tuhankah? atas ijin Tuhankah?
Apa dengan demikian lantas jika ada orang salah itu berarti kesalahan Tuhan? tentu tidak, sebab Tuhan maha benar, nah kalau semua atas kehendak Tuhan tapi Tuhan tak mau salah, apa berari Tuhan sekehendak hatinya? ya karena Tuhan maha berkehendak, kalau begitu Tuhan mau menang sendiri? itu urusan Tuhan, karena dia adalah Tuhan, maha segalanya, mau apa saja terserah Dia, kalau tidak demikian tentu bukan Tuhan namanya.
Namun demikian Tuhan selalu menghendaki umatnya menjadi yang terbaik, menepati kodrat penciptaan sebagai rohmatan lilalamin, sebagai walinya di muka bumi.
Demikian keadaan setengah sadar yang dapat saya tuturkan, semoga saya akan benar menjadi sadar dan setelah kita membaca Trilogi kesadaran kita akan sadar sesadarnya. Andaipun yang saya uraikan menyimpang dari kesadaran, dan banyak ngelantur dari buku Trilogi Kesadaran, ya mungkin ini adalah pengaruh dari kekurang sadaran,semoga saya akan disadarkan. Jika ada benar ini dari Allah, jika ada salah itu dari saya. Sebab Allah maha benar.
SINOPSIS Anak-Anak Langit
Anak-Anak Langit SINOPSIS Anak-Anak Langit adalah kisah menakjubkan tentang anak-anak rantau di pesantren modern binaan pemerintah di Koto Baru, sebuah kawasan sejuk di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi di Padang Panjang. Anak-anak penuh bakat ini sejak awal dijanjikan bakal menerima pendidikan unggul yang akan menempa mereka menjadi ulama, pemimpin, dan manusia berguna di masa depan. Namun, sistem dan praktik pendidikan yang dijanjikan itu hanyalah bumbu harapan yang tak serasa dengan kenyataan. Bagaimana “anak-anak langit” itu mengatasi rasa putus asa mereka menghadapi keadaan yang jauh dari harapan? Bagaimana pula mereka dapat terus memelihara impian-impian mereka untuk meraih kesuksesan di masa depan? Terinspirasi kisah nyata, novel ini mampu menggambarkan dengan baik kisah unik kehidupan remaja dalam menggapai cita-cita mereka. Sebagaimana novel Melayu lainnya, narasi-narasi yang berpadu peribahasa dan metafora merupakan kekuatan utama novel ini. ENDORSEMENT ”Muatan tekad, perjuangan, dan keinginan untuk maju menjadikan karya ini sangat inspiratif, menggugah, mendidik, dan mencerahkan. Sebagai Negeri Shahibul Kitab, Riau pernah melahirkan penulis-penulis besar seperti Raja Ali Haji dan Suman Hs. Saya yakin, Negeri Para Pujangga ini akan terus melahirkan penulis dan sastrawan andal. Karya ini setidaknya mengangkat kembali nama Riau sebagai sumber inspirasi penulis Nusantara.” —HM Rusli Zainal, Gubernur Riau ’’Novel-novel semi biografi memang menarik, karena bagian yang diambil adalah sisi hidup yang membangkitkan semangat kemandirian. Semangat kemandirian inilah esensi dari spirit entrepreneurship, di mana kita selalu menemukan jalan hidup yang sukses setelah belajar dari kesalahan sebelumnya. Prinsipnya: ’jika sungguh-sungguh berusaha, pasti berhasil’. Dan pesantren adalah salah satu tempat di mana kemandirian itu dibangun.’’ —Rida K Liamsi, Direktur Utama Jawa Pos National Network (JPNN) ''Jika Anda terpesona pada Ayat-Ayat Cinta dan takjub pada Laskar Pelangi, novel ini adalah gabungan keduanya.'' —Prie GS, budayawan, penulis buku Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia. ''Kekuatan novel ini terletak pada setting-nya. Dengan bahasa yang mengalir rancak dan kaya kosakata, Amin memeragakan kisah remajanya ketika berlabuh di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK); sebuah proyek intelektual Departemen Agama. Amin berhasil menceritakan mimpi intelektual anak-anak MAPK disertai bumbu-bumbu cinta remaja yang terhalang tembok asrama. Layak dibaca dan penuh insipirasi!'' —Burhanuddin Muhtadi, pengamat politik, alumni MAPK Solo ''Ada tiga kekuatan dahsyat budaya Minang, yaitu kemampuan diplomasi tingkat tinggi, pepatah yang sarat filosofi, dan adat yang bersendikan syar’i. Tiga kekuatan ini saya rasakan saat menempuh studi selama tiga tahun di MAPK Koto Baru dan mewarnai kehidupan saya hingga saat ini. Novel ini dengan cukup baik menggambarkan tiga kekuatan tersebut. Sayang sekali jika dilewatkan...!'' —Dr. Iswandi Syahputra, M.Si, anggota KPI Pusat "Sekali Anda membaca novel ini, Anda akan terdorong untuk membacanya lagi dan lagi... Anda akan diajak merenung, berpikir, bernostalgia, bahkan menangis di satu bagian, tapi kadang tersenyum dan tergelitik di bagian lain. Sebuah novel yang menceritakan tentang perjuangan anak-anak berbakat menuju takdirnya!" —Dr. Firdaus Siraj, MA, akademisi IAIN Imam Bonjol Padang "Inspiring and enlightening! Bagi yang pernah mondok di pesantren atau boarding school, membaca novel ini seperti membaca kisah sendiri. Saya seringkali tertegun dan kembali ke masa lalu di beberapa penggalan kisah dalam novel ini." —Nuruddin Mhd. Ali, MA, M.Sc, pengamat dan pelaku ekonomi syariah di Jakarta ''Novel ini bagaikan kaca rias, membuat kita tahu rupa kita sesungguhnya. Sebuah cerita yang memesona, dikupas dengan hati-hati, perpaduan rekaman kisah nyata dan fiksi yang disertai gagasan kreatif penulisnya untuk mengungkap sisi kemanusiaan dan kecemerlangan. Bagi yang optimis dan ingin maju, rugi besar jika tidak membaca karya yang luar biasa ini.'' —Jufrizal SHI, pengusaha asal Bagan Siapi-api, mantan anggota DPRD Rokan Hilir BIODATA PENULIS Mohd Amin MS adalah alumni Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Koto Baru, Padang Panjang, Sumatera Barat, angkatan ke-5 (1991-1994). Kisah dalam novel ini terinspirasi dari semua romantika remaja di sekolah unggulan Departemen Agama tersebut. Setelah tamat MAPK Koto Baru, ia melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan lulus dengan predikat cum laude. Dia kemudian memutuskan kembali ke daerah asalnya, Pekanbaru. Atas permintaan sang ibu, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di IAIN Suska Riau, sekaligus memimpin adik-adiknya yang memerlukan bimbingan. Dia pun harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Karya buku yang telah terbit adalah Dilema Demokrasi (2007) dan Mengislamkan Kursi dan Meja(2009). Sedangkan Anak-Anak Langit yang ada di tangan Anda ini merupakan novel perdananya dari rencana trilogi. Pria ini pernah mengabdi sebagai guru bahasa Inggris di Madrasah Tsanawiyah almamaternya, dosen luar biasa UIN Suska Riau, dan pernah pula menjadi anggota Panwas Pilkada Provinsi Riau. Saat ini, Amin tunak sebagai jurnalis di Riau Pos, dan bermastautin di Pekanbaru. Hobinya menulis dan main catur. Obsesinya keliling dunia dan menantang Gary Kasparov. DATA BUKU Judul : Anak-Anak Langit Penulis : Mohd Amin MS Editor : Wiyanto Suud Penerbit : Alvabet Genre : Novel Cetakan : I, Juli 2011 Ukuran : 13 x 20 cm (flap 8 cm) Tebal : 508 halaman ISBN : 978-602-9193-04-6 Harga : Rp. 69.900,-
MEMBACA HUJAN DERAS PADA SAJAK YANG MENGALIR
MEMBACA HUJAN DERAS PADA SAJAK YANG MENGALIR
(Penjara) Kamar
oleh Hoo Jan d'Ras pada 27 Juli 2011 jam 5:41
dengus
hembus
angin menembus
jendela kamar
di pagiku yang masih gelap
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
bahkan
aku lupa bilangan telah berlalu
tertindas roda kehidupan
terbelit lilit putaran bumi
sekulum senyum lalu menari
indah membekas di atas air telaga
tanpa angin, tanpa riak
masih jelas tergambar
akan dendang sejumlah nama
aku terancam pada arah panah
"lari!"
"hadapi!"
"ratapi!"
masih juga aku di sini
tanpa gerak, tanpa puisi
nafasmu
bangunkanlah aku!
{dps, 27/7/11}
Perkenalanku yang sederhana dengan seorang sahabat, Hoo Jan d’Ras namanya, berarti membingkai karya-karyanya sebagai pelajaran dalam memaknai kehidupan dan proses sosial dalam puisi. Tanpa latar belakang kesejarahan yang diketahui secara pasti, saya teringat pada sebuah percakapan ringan kami dalam sebuah komentar tentang foto teater Yaoma yang dimuat di facebook. “Penggelar KeberHitam dalam pementasan berarti betugas sebagai sutradara mas” demikianlah komentarnya yang singkat. Selanjutnya saya mengetahui bahwa sahabat Hoo Jan d’Ras (HJd) ini adalah seorang pegiat seni drama atau teater.
Larik-larik sajak yang tersusun dengan unik pada puisi berjudul (Penjara) Kamar ini adalah salah satu karya HJd yang dikirimkan kepada saya beberapa waktu yang lalu. Mencermati puisi dengan bentuk sajak bebas seperti ini, penulisnya telah berhasil mengikat imajinasi pembaca dengan enjabemen yang terikat kuat. Pertanyaan mulai timbul setelah berusaha mencari petunjuk dalam setiap makna yang diracik dalam setiap larik sajak ini. Menggunakan judul sebagai kunci untuk membuka sebuah karya adalah metode yang dapat digunakan dalam menggali makna puisi (Abrams).
Judul yang dipilih oleh HJd cukup unik /(Penjara) Kamar/, seolah-olah sebuah kalimat terpisah oleh dua bagian yaitu “Penjara” yang memiliki makna tersendiri dan “Kamar” sebagai rangkaian artikulasi yang dibentuk oleh kata Penjara. Apakah memang tulisan HJd ini berkisah tentang penjara dalam kamar? Mari kita cermati rangkaian makna dalam larik-larik selanjutnya.
//dengus//hembus//angin menembus/jendela kamar/di pagiku yang masih gelap//
Bait ini terdiri dari 5 larik, dengan 2 larik yang terdiri dari sepatah kata, diikuti dengan 2 larik selanjutnya yang ditulis dengan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata. Bait ini kemudian diakhiri dengan 3 kata dasar dan 1 kata yang berimbuhan. Penataan larik larik tersebut cukup menarik, mengingat penulisan larik ke-4 dan ke-5 sedikit bergeser ke tengah. Hal ini telah lama digunakan oleh penyair dan pemuisi modern dalam menyampaikan makna. Pembaca akan dibawa kepada makna-makna baru, setelah teks itu lahir dan tumbuh bersama imajinasi pembacanya (Saussure). Sebuah sajak yang ditulis oleh SDD (Sapardi Djoko Damono) yang berjudul “akuarium” pada kumpulan sajak Mata Pisau (1982), juga membentuk susunan yang ajaib seperti ini, namun hadir dengan performa yang lebih unggul.
Penataan penggalan larik untuk membentuk larik baru yang dilakukan oleh HJd bukanlah suatu penataan yang semata-mata berusaha membentuk efek dramatis dari estetika penulisan puisi. Jika dicermati larik ke-3 dan ke-4 adalah gabungan satu frasa :
//Angin menembus jendela kamar di pagiku yang masih gelap //
Dengan pembacaan yang sepintas akan muncul sebuah pernyataan : Penulis menggunakan Angin sebagai metafora untuk menjelaskan situasi yang melingkupi saat sajak ini dituliskan. Benarkah demikian ?. Mencermati bait pertama dan kedua, seluruh larik dituliskan dari sudut pandang orang pertama, namun yang dikisahkan pada bait tersebut bukanlah semata-mata cerita tentang sang Angin. Melainkan subjek yang mendengus, berhembus dan berada di dalam kamar saat hari masih gelap. Subjek ini bukanlah angin, namun ia adalah “seseorang” yang belaiannya membuat si bulu terbang ke kampung halaman. Larik terakhir pada bait pertama tersebut adalah pengikat makna untuk menterjemahkan kata-kata di bait yang kedua :
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
Setelah jelas bahwa subjek pada bait pertama ini bukanlah angin, namun “seseorang” permaisuri yang duduk di “takhta” dan mampu membawa penulis pulang ke kampung halaman. Maka memaknai metafora yang dipilih dalam puisi ini akan membawa kita pada perjalanan hidup HJd di tanah perantauan, meninggalkan kampung halaman. Kampung halaman adalah istilah yang muncul dalam budaya rumpun Melayu dan Asia timur. Tidak ditemukan istilah tersebut pada peradaban lain seperti Eropa, Arab jazirah, Indian, dsb. Pada peradaban yang lain kita akan menemukan istilah “mother land” tanah air, atau “home land” yang lebih bermakna : kota tempat asal muasal sesorang. Pada peradaban Hindustan yang juga memiliki banyak kosakata untuk mengistilahkan tempat tinggal asal, belum ditemukan istiah derngan makna yang setara dengan “kampung halaman”. “Ghara” (jha_drua)cenderung diartikan sebagai rumah tempat kelahiran. Istilah kampung halaman lebih memiliki artikulasi romantika masa lalu, tempat lahir tumbuh dan kembang, yang oleh para perantau melayu bahkan menjadi tempat peristirahatan terakhir (Van Earp).
Hingga bait kedua, penjelajahan saya untuk mengkaji puisi HJd ini semakin membara. Sampai di bait ke 3 yang berbunyi :
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
Pembaca sulit memahami apakah 3 larik tersebut adalah ungkapan penulis tentang masa kanak-kanak, atau masa-pencarian jati diri. Namun makna yang terikat dalam larik ini memang tidak berada dalam wilayah gelap terang dalam pengartian kata dan makna. Patut dicermati bahwa penulis memilih diksi mentari, melati dan merah. Ketiga kata tesebut telah digunakan sejak lama oleh penyair nusantara untuk mewakili kata sifat yang terikat dalam jiwa manusia. Jika diijinkan untuk menterjemahkan secara bebas :
mentari lupa aku sinarnya
(harapan_aku lupa pernah berharap)
melati lupa aku harumnya
(kesucian_aku lupa pernah merindukannya)
merah lupa aku warnanya
(perlawanan_aku lupa dulu selalu berlawan)
Jika saja HJd tidak memberikan rambu-rambu yang sangat indah pada bait selanjutnya, niscaya pembaca akan memilih belokan yang lain dan tidak mencapai tempat pemberhentian makna yang sesungguhnya. Sekali lagi bait ke-empat hadir dengan penulisan frasa yang dipenggal secara menakjubkan dan ajaib :
//bahkan/aku lupa bilangan telah berlalu/tertindas roda kehidupan/terbelit lilit putaran bumi//
Dituliskan dalam 4 larik yang termasuk dalam 1 frasa, kembali muncul sebuah pertanyaan : Siapakah “aku” yang dimaksud pada bait ini? Dengan penggalan penggalan yang unik HJd telah menyuguhkan percakapan antara 2 orang yang berbeda dalam sebuah puisi. Pilihan bahasa yang sederhana, tanpa hingar bingar avan garde ternyata mampu menghadirkan lanskap kesunyian dalam ruang penjara psikologis yang diciptakan dalam dialog 2 anak manusia. Penjara tidak lagi hadir sebagai batas antara ruang waktu dengan kebebasan, namun penjara dalam tulisan HJd telah mampu menyuguhkan sekelumit proses dalam mencari kesejatian makna kehidupan.
HJd telah mengadirkan dialog antara “aku” (sang penulis) yang mengungkapkan perempuan (permaisuri) sebagai angin. Kemudian dengan pemenggalan frasa yang cantik, HJd telah menjelma sebagai permaisuri yang berkisah tentang suatu masa penuh pengharapan, kesucian dan pergulatan. Seiring usia yang bertambah, menjalani fase kehidupan dengan penuh perjuangan untuk kemudian terbelit dengan rutinitas yang diciptakan pada alam metro dan modern.
Tidak berlebihan jika larik ke-4 pada bait ke-4 tersebut adalah gerbang pembuka makna bagi pembaca untuk menerima makna-makna yang tidak terikat pada bait selanjutnya. /terbelit lilit di putaran bumi//. Putaran bumi saat ini ditandai oleh manusia lewat takaran dan satuan. Waktu dan jarak yang pernah diidentifikasi sebagai dimansi tambahan untuk memudahkan aktivitas manusia kini telah menjadi belenggu yang baru, dengan alat-alat bantu yang menciptakan keterasingan dan keterbatasan antara hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Peradaban di muka bumi telah “melilit” dan “membelit” HJd dan memenjarakan dirinya setelah mencari kesejatian makna sepanjang kehidupan. Tegur sapa lewat alat komunikasi modern ternyata melupakan kita untuk melihat sebuah dunia nyata dibalik dinding dunia maya yang tergambar dan terekam dalam memori kita. HJd telah berhasil merangkai makna tersebut dengan meninggalkan rambu-rambu yang mengantarkan kita untuk memahami makna puisi. Puisi yang berkisah tentang keterasingan manusia di antara hiruk pikuk peradaban.
“(Penjara) Kamar” telah berhasil membangun imajinasi pembaca untuk kembali pada sebuah masa saat mentari, melati dan merah masih mempunyai arti. Jika WS. Rendra adalah penyair burung merak yang mengembalikan puisi kepada kalimat dan memperkosa soneta dengan sihirnya (Wing Karjo), maka HJd termasuk penyair yang mengembalikan puisi kepada keseluruhan bait. Dengan membangun sebuah hubungan yang kuat antar bait, dan setia pada bentuk-bentuk yang tidak mengikat pada kehadiran sebuah sajak. Genre sajak bebas memang pilihan yang cukup rumit bagi seorang pemuisi. Saat rangkaian baitnya ditulis dengan instan, maka kedalaman makna yang terlahir dalam sebuah puisi akan gagal mengukir imajinasi pembaca menuju ruang yang diharapkan oleh penulis. Namun alangkah baiknya jika tinjauan atas puisi ini tidak membicarakan genre, sebagaimana kata SDD (Sapardi Djoko Damono) pada ulasan “Membaca Lima Sajak Sapardi” yang digawangi oleh Melanie Budianta : Beliau (SDD) menyatakan bahwa pemilahan puisi dalam genre tidak sebaiknya dilakukan”. Meskipun demikian, sebagai penulis SDD ternyata setia dengan genre soneta yang menggunakan gaya italia dan inggris, pun juga pada gaya sonetanya sendiri yang terdiri dari 14 larik 1 bait dengan rima (aaaa). Sebuah epigram bergaya soneta.
HJd telah menuliskan 29 larik pada sajak bebasnya. Dan baiit ke 5 sampai terakhir adalah pamungkas dari lanskap kesunyian penjara yang dibangun dalam setiap bait sajaknya. Saat perenungan seorang penyair telah mencapai titik nadir, maka langkah nyata yang harus dipilih ternyata masih menyisakan perdebatan.
Dengan menggunakan kosakata yang sederhana, namun terikat erat pada setiap struktur makna dan penulisannya, puisi HJd telah berhasil membuktikan bahwa sebuah puisi imajis telah dapat hadir sebagai ruang untuk menggali apresiasi dari pembacanya. Sebagaimana kata Goenawan Moehamad : puisi imajis adalah ungkapan penulis yang berawal dari sebuah imajinasi namun mampu mengikat pembacanya lewat setiap kata-kata yang hadir seperti mantera”. Sebuah sajak bebas terbebas dari penjara kamar Hoo Jan d’Ras.
Akhir kata, sepatah kata maaf hadir pada seluruh pemerhati sastra. Ulasan ini dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara otodidak. Tanpa bermaksud untuk menyinggung penulis puisi ini, ulasan ini semata mata hanya bermaksud untuk membingkai karya seorang sahabat yang sangat bermakna.
Salam Satu Jiwa!
(Lingsir Wengi Guntono)
(Penjara) Kamar
oleh Hoo Jan d'Ras pada 27 Juli 2011 jam 5:41
dengus
hembus
angin menembus
jendela kamar
di pagiku yang masih gelap
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
bahkan
aku lupa bilangan telah berlalu
tertindas roda kehidupan
terbelit lilit putaran bumi
sekulum senyum lalu menari
indah membekas di atas air telaga
tanpa angin, tanpa riak
masih jelas tergambar
akan dendang sejumlah nama
aku terancam pada arah panah
"lari!"
"hadapi!"
"ratapi!"
masih juga aku di sini
tanpa gerak, tanpa puisi
nafasmu
bangunkanlah aku!
{dps, 27/7/11}
Perkenalanku yang sederhana dengan seorang sahabat, Hoo Jan d’Ras namanya, berarti membingkai karya-karyanya sebagai pelajaran dalam memaknai kehidupan dan proses sosial dalam puisi. Tanpa latar belakang kesejarahan yang diketahui secara pasti, saya teringat pada sebuah percakapan ringan kami dalam sebuah komentar tentang foto teater Yaoma yang dimuat di facebook. “Penggelar KeberHitam dalam pementasan berarti betugas sebagai sutradara mas” demikianlah komentarnya yang singkat. Selanjutnya saya mengetahui bahwa sahabat Hoo Jan d’Ras (HJd) ini adalah seorang pegiat seni drama atau teater.
Larik-larik sajak yang tersusun dengan unik pada puisi berjudul (Penjara) Kamar ini adalah salah satu karya HJd yang dikirimkan kepada saya beberapa waktu yang lalu. Mencermati puisi dengan bentuk sajak bebas seperti ini, penulisnya telah berhasil mengikat imajinasi pembaca dengan enjabemen yang terikat kuat. Pertanyaan mulai timbul setelah berusaha mencari petunjuk dalam setiap makna yang diracik dalam setiap larik sajak ini. Menggunakan judul sebagai kunci untuk membuka sebuah karya adalah metode yang dapat digunakan dalam menggali makna puisi (Abrams).
Judul yang dipilih oleh HJd cukup unik /(Penjara) Kamar/, seolah-olah sebuah kalimat terpisah oleh dua bagian yaitu “Penjara” yang memiliki makna tersendiri dan “Kamar” sebagai rangkaian artikulasi yang dibentuk oleh kata Penjara. Apakah memang tulisan HJd ini berkisah tentang penjara dalam kamar? Mari kita cermati rangkaian makna dalam larik-larik selanjutnya.
//dengus//hembus//angin menembus/jendela kamar/di pagiku yang masih gelap//
Bait ini terdiri dari 5 larik, dengan 2 larik yang terdiri dari sepatah kata, diikuti dengan 2 larik selanjutnya yang ditulis dengan 1 kalimat yang terdiri dari 2 kata. Bait ini kemudian diakhiri dengan 3 kata dasar dan 1 kata yang berimbuhan. Penataan larik larik tersebut cukup menarik, mengingat penulisan larik ke-4 dan ke-5 sedikit bergeser ke tengah. Hal ini telah lama digunakan oleh penyair dan pemuisi modern dalam menyampaikan makna. Pembaca akan dibawa kepada makna-makna baru, setelah teks itu lahir dan tumbuh bersama imajinasi pembacanya (Saussure). Sebuah sajak yang ditulis oleh SDD (Sapardi Djoko Damono) yang berjudul “akuarium” pada kumpulan sajak Mata Pisau (1982), juga membentuk susunan yang ajaib seperti ini, namun hadir dengan performa yang lebih unggul.
Penataan penggalan larik untuk membentuk larik baru yang dilakukan oleh HJd bukanlah suatu penataan yang semata-mata berusaha membentuk efek dramatis dari estetika penulisan puisi. Jika dicermati larik ke-3 dan ke-4 adalah gabungan satu frasa :
//Angin menembus jendela kamar di pagiku yang masih gelap //
Dengan pembacaan yang sepintas akan muncul sebuah pernyataan : Penulis menggunakan Angin sebagai metafora untuk menjelaskan situasi yang melingkupi saat sajak ini dituliskan. Benarkah demikian ?. Mencermati bait pertama dan kedua, seluruh larik dituliskan dari sudut pandang orang pertama, namun yang dikisahkan pada bait tersebut bukanlah semata-mata cerita tentang sang Angin. Melainkan subjek yang mendengus, berhembus dan berada di dalam kamar saat hari masih gelap. Subjek ini bukanlah angin, namun ia adalah “seseorang” yang belaiannya membuat si bulu terbang ke kampung halaman. Larik terakhir pada bait pertama tersebut adalah pengikat makna untuk menterjemahkan kata-kata di bait yang kedua :
belaiannya menerbangkan
buluku ke kampung halaman
permaisuri duduk di takhtaku
memenjara di lingkaran waktu
Setelah jelas bahwa subjek pada bait pertama ini bukanlah angin, namun “seseorang” permaisuri yang duduk di “takhta” dan mampu membawa penulis pulang ke kampung halaman. Maka memaknai metafora yang dipilih dalam puisi ini akan membawa kita pada perjalanan hidup HJd di tanah perantauan, meninggalkan kampung halaman. Kampung halaman adalah istilah yang muncul dalam budaya rumpun Melayu dan Asia timur. Tidak ditemukan istilah tersebut pada peradaban lain seperti Eropa, Arab jazirah, Indian, dsb. Pada peradaban yang lain kita akan menemukan istilah “mother land” tanah air, atau “home land” yang lebih bermakna : kota tempat asal muasal sesorang. Pada peradaban Hindustan yang juga memiliki banyak kosakata untuk mengistilahkan tempat tinggal asal, belum ditemukan istiah derngan makna yang setara dengan “kampung halaman”. “Ghara” (jha_drua)cenderung diartikan sebagai rumah tempat kelahiran. Istilah kampung halaman lebih memiliki artikulasi romantika masa lalu, tempat lahir tumbuh dan kembang, yang oleh para perantau melayu bahkan menjadi tempat peristirahatan terakhir (Van Earp).
Hingga bait kedua, penjelajahan saya untuk mengkaji puisi HJd ini semakin membara. Sampai di bait ke 3 yang berbunyi :
mentari lupa aku sinarnya
melati lupa aku harumnya
merah lupa aku warnanya
Pembaca sulit memahami apakah 3 larik tersebut adalah ungkapan penulis tentang masa kanak-kanak, atau masa-pencarian jati diri. Namun makna yang terikat dalam larik ini memang tidak berada dalam wilayah gelap terang dalam pengartian kata dan makna. Patut dicermati bahwa penulis memilih diksi mentari, melati dan merah. Ketiga kata tesebut telah digunakan sejak lama oleh penyair nusantara untuk mewakili kata sifat yang terikat dalam jiwa manusia. Jika diijinkan untuk menterjemahkan secara bebas :
mentari lupa aku sinarnya
(harapan_aku lupa pernah berharap)
melati lupa aku harumnya
(kesucian_aku lupa pernah merindukannya)
merah lupa aku warnanya
(perlawanan_aku lupa dulu selalu berlawan)
Jika saja HJd tidak memberikan rambu-rambu yang sangat indah pada bait selanjutnya, niscaya pembaca akan memilih belokan yang lain dan tidak mencapai tempat pemberhentian makna yang sesungguhnya. Sekali lagi bait ke-empat hadir dengan penulisan frasa yang dipenggal secara menakjubkan dan ajaib :
//bahkan/aku lupa bilangan telah berlalu/tertindas roda kehidupan/terbelit lilit putaran bumi//
Dituliskan dalam 4 larik yang termasuk dalam 1 frasa, kembali muncul sebuah pertanyaan : Siapakah “aku” yang dimaksud pada bait ini? Dengan penggalan penggalan yang unik HJd telah menyuguhkan percakapan antara 2 orang yang berbeda dalam sebuah puisi. Pilihan bahasa yang sederhana, tanpa hingar bingar avan garde ternyata mampu menghadirkan lanskap kesunyian dalam ruang penjara psikologis yang diciptakan dalam dialog 2 anak manusia. Penjara tidak lagi hadir sebagai batas antara ruang waktu dengan kebebasan, namun penjara dalam tulisan HJd telah mampu menyuguhkan sekelumit proses dalam mencari kesejatian makna kehidupan.
HJd telah mengadirkan dialog antara “aku” (sang penulis) yang mengungkapkan perempuan (permaisuri) sebagai angin. Kemudian dengan pemenggalan frasa yang cantik, HJd telah menjelma sebagai permaisuri yang berkisah tentang suatu masa penuh pengharapan, kesucian dan pergulatan. Seiring usia yang bertambah, menjalani fase kehidupan dengan penuh perjuangan untuk kemudian terbelit dengan rutinitas yang diciptakan pada alam metro dan modern.
Tidak berlebihan jika larik ke-4 pada bait ke-4 tersebut adalah gerbang pembuka makna bagi pembaca untuk menerima makna-makna yang tidak terikat pada bait selanjutnya. /terbelit lilit di putaran bumi//. Putaran bumi saat ini ditandai oleh manusia lewat takaran dan satuan. Waktu dan jarak yang pernah diidentifikasi sebagai dimansi tambahan untuk memudahkan aktivitas manusia kini telah menjadi belenggu yang baru, dengan alat-alat bantu yang menciptakan keterasingan dan keterbatasan antara hubungan manusia yang satu dengan yang lain. Peradaban di muka bumi telah “melilit” dan “membelit” HJd dan memenjarakan dirinya setelah mencari kesejatian makna sepanjang kehidupan. Tegur sapa lewat alat komunikasi modern ternyata melupakan kita untuk melihat sebuah dunia nyata dibalik dinding dunia maya yang tergambar dan terekam dalam memori kita. HJd telah berhasil merangkai makna tersebut dengan meninggalkan rambu-rambu yang mengantarkan kita untuk memahami makna puisi. Puisi yang berkisah tentang keterasingan manusia di antara hiruk pikuk peradaban.
“(Penjara) Kamar” telah berhasil membangun imajinasi pembaca untuk kembali pada sebuah masa saat mentari, melati dan merah masih mempunyai arti. Jika WS. Rendra adalah penyair burung merak yang mengembalikan puisi kepada kalimat dan memperkosa soneta dengan sihirnya (Wing Karjo), maka HJd termasuk penyair yang mengembalikan puisi kepada keseluruhan bait. Dengan membangun sebuah hubungan yang kuat antar bait, dan setia pada bentuk-bentuk yang tidak mengikat pada kehadiran sebuah sajak. Genre sajak bebas memang pilihan yang cukup rumit bagi seorang pemuisi. Saat rangkaian baitnya ditulis dengan instan, maka kedalaman makna yang terlahir dalam sebuah puisi akan gagal mengukir imajinasi pembaca menuju ruang yang diharapkan oleh penulis. Namun alangkah baiknya jika tinjauan atas puisi ini tidak membicarakan genre, sebagaimana kata SDD (Sapardi Djoko Damono) pada ulasan “Membaca Lima Sajak Sapardi” yang digawangi oleh Melanie Budianta : Beliau (SDD) menyatakan bahwa pemilahan puisi dalam genre tidak sebaiknya dilakukan”. Meskipun demikian, sebagai penulis SDD ternyata setia dengan genre soneta yang menggunakan gaya italia dan inggris, pun juga pada gaya sonetanya sendiri yang terdiri dari 14 larik 1 bait dengan rima (aaaa). Sebuah epigram bergaya soneta.
HJd telah menuliskan 29 larik pada sajak bebasnya. Dan baiit ke 5 sampai terakhir adalah pamungkas dari lanskap kesunyian penjara yang dibangun dalam setiap bait sajaknya. Saat perenungan seorang penyair telah mencapai titik nadir, maka langkah nyata yang harus dipilih ternyata masih menyisakan perdebatan.
Dengan menggunakan kosakata yang sederhana, namun terikat erat pada setiap struktur makna dan penulisannya, puisi HJd telah berhasil membuktikan bahwa sebuah puisi imajis telah dapat hadir sebagai ruang untuk menggali apresiasi dari pembacanya. Sebagaimana kata Goenawan Moehamad : puisi imajis adalah ungkapan penulis yang berawal dari sebuah imajinasi namun mampu mengikat pembacanya lewat setiap kata-kata yang hadir seperti mantera”. Sebuah sajak bebas terbebas dari penjara kamar Hoo Jan d’Ras.
Akhir kata, sepatah kata maaf hadir pada seluruh pemerhati sastra. Ulasan ini dilakukan hanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh secara otodidak. Tanpa bermaksud untuk menyinggung penulis puisi ini, ulasan ini semata mata hanya bermaksud untuk membingkai karya seorang sahabat yang sangat bermakna.
Salam Satu Jiwa!
(Lingsir Wengi Guntono)
Selasa, 26 Juli 2011
Suguhan Sastra QLC Cab. Panggul
SALAM BUDAYA !
Sahabat-sahabat Quantum Litera Center Trenggalek yang tercinta, kami dari Quantum Litera Center Cabang Panggul akan berusaha untuk menyuguhkan berbagai program awal kami dalam memasyarakatkan sastra dan mensastrakan masyarakat di kecamatan Panggul khususnya dan kabupaten Trenggalek pada umumnya. Adapun program awal yang akan kami kemas dalam tahun 2011 ini antara lain :
* Pada Bulan Juni tepatnya pada tanggal 26 Juni 2011 kami akan mengadakan kegiatan Diklat Filsafat dan Pendidikan yang akan disampaikan oleh Nurani Soyomukti Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Blitar, kegiatam ini dimaksudkan untuk memotivasi kami dan para pelajar serta guru untuk lebih berkreatif dan edukatif.
* Pada Bulan Juli kami akan membuat tabloid “PELANGI SASTRA” Quantum Litera Center Cabang Panggul edisi pertama dan akan berkelanjutan sesuai dengan tema-tema tertentu. Adapun isi dalam tabloid mencakup berbagai karya Artikel, Cerpen, Puisi, Pantun, Celoteh SMS dengan tema tertentu, serta profil-profil kegiatan Quantum Litera Center Cabang Panggul. Tabloid ini akan dibimbing oleh berbagai pihak, diantaranya Dewan Pembimbing QLC Cab. Panggul yaitu Bapak Drs. Sri Purnanto salah satu guru dan pemenang cerpenis tingkat nasional, Bapak Slamet Sri Mulyani, S.Pd. pelukis dan seniman Panggul. Tabloid ini tidak lepas dari bimbingan sahabat QLC Trenggalek dan Kaum Reborn terutama Nurani Soyomukti direktur QLC Pusat Trenggalek dan Kang Bonari Nabonenar sesepuh kami yang merupakan salah satu sastrawan Jawa Timur. Tabloid ini adalah langkah kami untuk mengenalkan sastra dikalangan pelajar dan masyarakat.
* Pada Bulan Juli bila keadaan mengijinkan kami juga akan mengadakan kegiatan Bazar buku dalam rangka memperingati kegiatan HUT RI yang semua itu akan kami kemas dalam bentuk expo bersama kratif masyarakat Panggul di Kecamatan.
* Kami juga akan mengadakan kegiatan Lomba Menulis Cerpen dan Puisi tingkat Pelajar dan Umum dalam rangka Memperingati Bulan Bahasa tepatnya bulan September yang peserta diikuti oleh SMP/SMA/SMK/MAN dan Mahasiswa serta Umum Se Kabupaten Trenggalek.
* Sebagai penutup akhir tahun 2011 kami akan mengadakan kegiatan Renungan Sastra berupa orasi dan Penyalaan Kembang Api bersama sebagai bentuk menyambut tahun baru 2012.
Demikian berbagai agenda Quantum Litera Center Cabang Panggul dalam memajukan sastra khususnya diwilayah Panggul. Besar harapan kami kepada semua pihak khususnya sahabat-sahabat Quantum Litera Center Trenggalek dan Kaum Reborn untuk membantu jalannya kegiatan ini sehingga mampu untuk terealisasi. Salam Hormat Kami Quantum Litera Center Cabang Panggul.
Direktur
QLC Cab. Panggul
PRASETIYAWAN
Sahabat-sahabat Quantum Litera Center Trenggalek yang tercinta, kami dari Quantum Litera Center Cabang Panggul akan berusaha untuk menyuguhkan berbagai program awal kami dalam memasyarakatkan sastra dan mensastrakan masyarakat di kecamatan Panggul khususnya dan kabupaten Trenggalek pada umumnya. Adapun program awal yang akan kami kemas dalam tahun 2011 ini antara lain :
* Pada Bulan Juni tepatnya pada tanggal 26 Juni 2011 kami akan mengadakan kegiatan Diklat Filsafat dan Pendidikan yang akan disampaikan oleh Nurani Soyomukti Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Blitar, kegiatam ini dimaksudkan untuk memotivasi kami dan para pelajar serta guru untuk lebih berkreatif dan edukatif.
* Pada Bulan Juli kami akan membuat tabloid “PELANGI SASTRA” Quantum Litera Center Cabang Panggul edisi pertama dan akan berkelanjutan sesuai dengan tema-tema tertentu. Adapun isi dalam tabloid mencakup berbagai karya Artikel, Cerpen, Puisi, Pantun, Celoteh SMS dengan tema tertentu, serta profil-profil kegiatan Quantum Litera Center Cabang Panggul. Tabloid ini akan dibimbing oleh berbagai pihak, diantaranya Dewan Pembimbing QLC Cab. Panggul yaitu Bapak Drs. Sri Purnanto salah satu guru dan pemenang cerpenis tingkat nasional, Bapak Slamet Sri Mulyani, S.Pd. pelukis dan seniman Panggul. Tabloid ini tidak lepas dari bimbingan sahabat QLC Trenggalek dan Kaum Reborn terutama Nurani Soyomukti direktur QLC Pusat Trenggalek dan Kang Bonari Nabonenar sesepuh kami yang merupakan salah satu sastrawan Jawa Timur. Tabloid ini adalah langkah kami untuk mengenalkan sastra dikalangan pelajar dan masyarakat.
* Pada Bulan Juli bila keadaan mengijinkan kami juga akan mengadakan kegiatan Bazar buku dalam rangka memperingati kegiatan HUT RI yang semua itu akan kami kemas dalam bentuk expo bersama kratif masyarakat Panggul di Kecamatan.
* Kami juga akan mengadakan kegiatan Lomba Menulis Cerpen dan Puisi tingkat Pelajar dan Umum dalam rangka Memperingati Bulan Bahasa tepatnya bulan September yang peserta diikuti oleh SMP/SMA/SMK/MAN dan Mahasiswa serta Umum Se Kabupaten Trenggalek.
* Sebagai penutup akhir tahun 2011 kami akan mengadakan kegiatan Renungan Sastra berupa orasi dan Penyalaan Kembang Api bersama sebagai bentuk menyambut tahun baru 2012.
Demikian berbagai agenda Quantum Litera Center Cabang Panggul dalam memajukan sastra khususnya diwilayah Panggul. Besar harapan kami kepada semua pihak khususnya sahabat-sahabat Quantum Litera Center Trenggalek dan Kaum Reborn untuk membantu jalannya kegiatan ini sehingga mampu untuk terealisasi. Salam Hormat Kami Quantum Litera Center Cabang Panggul.
Direktur
QLC Cab. Panggul
PRASETIYAWAN
Jumat, 22 Juli 2011
Mengenang Robert Penn Warren
Mengenang Sastrawan Robert Penn Warren
(oleh : Lingsir Wengi Guntono)
Pendahuluan
Pada diskusi sastra di beberapa Grup Facebook, saya menjumpai nama Warren disebut berulang-ulang. Tergelitik untuk memperkenalkan sosok Warren kepada sahabat sastra yang budiman, saya mencoba menyusun sebuah tulisan ringan untuk menjelaskan sosok penulis Amerika yang inspiratif ini.
Seorang penulis serbaguna, dibedakan sebagai novelis dan kritikus, Warren dianggap sebagai salah satu penyair terbaik Amerika dari paruh kedua abad kedua puluh.Karyanya yang paling terkenal telah meraih Pulitzer, yatitu sebuah novel All The King’s Men (1946). Warren juga dikenang sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan teori kritis sastra. Metodenya yang dikenal sebagai “Kritik Baru” (New Criticism), adalah sistem analisis sastra yang berfokus tajam pada kualitas intrinsik suatu karya, bukan pada pengaruh luar dan konteks. Meskipun demikian, Warren lebih sering menempatkan dirinya sebagai seorang penyair, walupun kontribusi ilmiahnya di bidang sastra cukup mendominasi teori kajian kritis sastra hingga saat ini.
Sebagian besar karyanya yang monumental adalah transliterasi ayat-ayat suci (Bible) menjadi puisi dengan narasi yang panjang. Tema yang banyak diangkat adalah rasa bersalah manusia, keberadaan korupsi kejahatan dan moral, perlunya dan penemuan jati diri manusia, serta kemungkinan penebusan dosa manusia, Warren memperoleh penghargaan berlimpah, termasuk dua Pulitzer Prize dan National Book Award. Pada tahun 1986 Warren mendapat gelar dari asosiasi sastra negara bagian Amerika Serikat sebagai “the first official poet laureate of the United States” atau Penyair Resmi Kenamaan Amerika Serikat yang Pertama.
Sejarah Hidup Singkat
Warren lahir di Guthrie, negara bagian Kentucky, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan SMA, ia melanjutkan pendidikan militer pada US Naval Academy di Annapolis, Maryland. Riwayat pendidikan militernya berakhir saat mengalami cedera mata yang membuatnya dikeluarkan.
Selanjutnya Warren bergabung di Vanderbilt University Fakultas Teknik Kelautan selama beberapa minggu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke jurusan Sastra Inggris. Di bawah bimbingan Yohanes Crowe Ransom, instruktur bahasa Inggris pertamanya, Warren bergabung dengan "buronan" (fugitive). “Buronan” adalah sebuah serikat guru dan siswa di Vanderbilt. Serikat ini mengadakan kegiatan studi kritis terhadap karya sastra dan puisi, melalui diskusi rutin dan penerbitan majalah. Fugitive (bukan the fugitive yang disampaikan Snyder) bertujuan untuk membangun kesepahaman dan merekonstruksi pemikiran karya sastra klasik dengan model dekonstruksi makna kata. Hal ini ditandai dengan budaya egaliter yang dibangun selama sejarah perjalanannya (Under the Poetry, Cohen, essay 2002).
Warren melanjutkan studinya di Universitas California, Berkeley. Di sana ia bertemu Emma Brescia, yang kemudian menjadi istri pertamanya. Kecewa dengan sistem studi di California University, Warren pindah ke Universitas Yale dan melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Oxford.
Karyanya sastranya yang populer di masa itu, selain dari beberapa puisi pendek dan esai yang telah muncul sebelumnya di majalah, adalah biografi John Brown: The Making of a Martyr (1929). Setelah Warren menyelesaikan studi di Oxford pada tahun 1930, ia kembali ke Amerika untuk menikahi Brescia, dan mulai mengajar di Southwestern Presbyterian College dan Vanderbilt.
Pada tahun 1934, ia menjadi pengajar di Louisiana State University dan bergabung dengan profesor Cleanth Brooks dalam mendirikan lingkar studi ”Review Selatan” (Southern Review). Bersama dengan Brooks, Warren juga menyusun sebuah buku “ Understanding Poetry: An Anthology for College Students” (Memahami Puisi, Sebuah Antologi Untuk Mahasiswa (1938), sebuah teks kunci gerakan kritik “gaya baru” (New Criticism) yang kelak diusungnya. Sementara itu, upaya Warren untuk menulis puisi terus berlanjut hingga kumpulan puisinya yang berjudul “Thirty-Six Poems” (Tiga Puluh Enam-Puisi) diterbitkan tahun 1935.
Pada tahun 1944, Warren diangkat menjadi profesor di Universitas Minnesota, setelah menyelesaikan karya puisi “Selected Poems: 1923-1943”, dan dua novel: Night Rider (1939) dan At Heaven’s Gate (1943). Novel Night Rider (Pengendara Malam) pernah diangkat menjadi film layar lebar produksi Hollywood dan menjadi bahan diskusi klub dikusi mahasiswa UI tahun 1960. Soe Hok Gie membuka diskusi dengan kata-kata Warren dalam bukunya tersebut : “Tak ada yang tersisa pada malam selain pengendara terakhir. Sebab ia mengendarai ketakutan”.
Selama dekade berikutnya, Warren mengalami kekeringan total dalam komposisi puitis dan tidak dapat menyelesaikan puisi apapun. Dia memfokuskan energinya pada prosa, terutama dalam novelnya yang paling terkenal “Semua Pria Raja” dan sebuah esai kritis tentang karya Samuel Taylor C. “The Rime of the Ancient Mariner”. Essai ini berjudul "Sebuah Puisi dari Imajinasi Murni: Sebuah Percobaan dalam Membaca”.
Pada tahun 1950, Warren menetap di New England setelah menerima gelar profesor dari Universitas Yale. Berarti dalam jangka waktu 6 tahun ia telah memperoleh gelar profesor dari 2 universitas kenamaan, yaitu Minnesota dan Yale University. Warren bercerai pada tahun 1951 dan menikahi penulis Eleanor Clark di tahun berikutnya. Pernikahannya yang kedua telah memompa energi Warren untuk kembali menulis sajak. Hasilnya sebuah puisi naratif yang panjang berjudul : “Brother to Dragons: A Tale in Verse and Voices” [Bersaudara kepada Naga, Sebuah Kisah dalam Ayat dan Suara] terbit tahun 1953.
Pada musim gugur 1989, Warren meninggal karena kanker tulang di Stratton, Vermont. Namun karya-karyanya yang terdiri dari puisi, novel, kritik sastra, esai, biografi, naskah drama, dan cerpen telah mengabadikan nama Robert Penn Warren sebagai sastrawan dan tokoh humanis terkemuka di dunia.
Tinjauan Kritis Singkat
Warren telah memberikan kontribusi yang sangat bervariasi untuk sastra Amerika selama masa perang dingin. Ia mempublikasikan karya dengan beberapa tema puitik yang khas, antara lain “kejatuhan kemurnian” serta “konsekuensi Dosa dan Keterasingan”.
Beberapa pengamat yang menganalisis perkembangan Warren sebagai penyair, melihat perkembangan karya-karya awalnya yang penuh dengan formalitas telah berpadu dengan isu kesejarahan yang ambisius (terlihat pada novel : “Bruder di dekat-epik untuk Dragons”). Adapun karya-karya tahap awal setelah epik tersebut telah berkembang menjadi dialektika pribadi yang sarat pesan moral.
Dalam hal komposisi dan penggubahan syair puitisnya, James Wright telah mengamati Warren sebagai tokoh yang "mendistorsi kekerasan bahasa”. Menurutnya puisi Warent adalah bentukan dari komunikasi verbal dengan ciri khas yang saling mengikat, liris dengan penyampaian yang rendah hati dan tulus. James Wright juga mengkritik experimentalisme puitis Warren, yang rancak dengan ritme dan pola-pola struktural yang sangat terkendali ( Poetry Crticism; J.A. Wright 1967 ).
Selain Wright banyak komentator sastra Amerika pada tahun 1960-an telah menganggap Warren mengalami “ketimpangan diksi puitis”. Mereka menganggap Warren mengutip ayat-ayat dari kitab suci secara berlebihan dan sering menggunakan kata-kata yang canggung. Hal ini terjadi karena komposisi lirik yang disusun dengan cepat dan ingin meninggalkan kesan megah.
Sebagai seorang spritualis Kristen, Warren telah melakukan penyimpangan yang luar biasa dengan mengambil risiko menjadi penyair. Namun terobosan Warren terlihat jelas pada karya transisional seperti “Inkarnasi” dan “Audubon”, yang menggambarkan semangat baru dan keberanian dalam mewartakan injil (James Baldwin Criticism, Baldwin, France 1961)
Pada akhir 1970-an, kritikus Harold Bloom memelopori publik sastra Amerika untuk mendaulat Warren sebagai salah satu penyair besar dari tradisi abad kedua puluh. Hal ini didukung oleh barisan penyair Amerika terkemuka saat itu termasuk Robert Frost, Hart Crane, Wallace Stevens, William Carlos Williams, Ezra Pound, dan TS Eliot. (Arsip Sastra Dunia Vol-24, Perpustakaan Umum Propinsi Aquitaine, France)
Warren telah menghasilkan puisi yang orisinal dan visioner, serta menginspirasi sastrawan dunia. Publikasi dari The Collected Poems Robert Penn Warren pada tahun 1998 terbukti telah menjadi anugerah atas jasanya. Roeslan, DES yang pernah menjadi pengajar studi Anglophone di Nice University mengomentari buku tersebut : “relevansi puisi kontemporer yang diusung Warren telah terus menyusut, terutama pada karya-karya di akhir hayatnya. Meskipun demikian Warren telah berdiri sebagai salah satu tokoh utama abad kedua puluh Amerika dengan karya-karyanya yang brilian”. James Dickey telah megabadikan nama Warren dengas kalimat, "he invest us with the greatest and most exacting of all human powers: that of discovering and defining what we must be, within the thing that we are”.
“dia (Warren) telah menginvestasikan kepada kita dengan hal yang tersulit dan terhebat dari seluruh kekuatan manusiawi (yaitu ) : Menemukan dan memaknai tentang apa yang harus kita lakukan, dengan apa-apa yang kita miliki apa adanya”
(oleh : Lingsir Wengi Guntono)
Pendahuluan
Pada diskusi sastra di beberapa Grup Facebook, saya menjumpai nama Warren disebut berulang-ulang. Tergelitik untuk memperkenalkan sosok Warren kepada sahabat sastra yang budiman, saya mencoba menyusun sebuah tulisan ringan untuk menjelaskan sosok penulis Amerika yang inspiratif ini.
Seorang penulis serbaguna, dibedakan sebagai novelis dan kritikus, Warren dianggap sebagai salah satu penyair terbaik Amerika dari paruh kedua abad kedua puluh.Karyanya yang paling terkenal telah meraih Pulitzer, yatitu sebuah novel All The King’s Men (1946). Warren juga dikenang sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan teori kritis sastra. Metodenya yang dikenal sebagai “Kritik Baru” (New Criticism), adalah sistem analisis sastra yang berfokus tajam pada kualitas intrinsik suatu karya, bukan pada pengaruh luar dan konteks. Meskipun demikian, Warren lebih sering menempatkan dirinya sebagai seorang penyair, walupun kontribusi ilmiahnya di bidang sastra cukup mendominasi teori kajian kritis sastra hingga saat ini.
Sebagian besar karyanya yang monumental adalah transliterasi ayat-ayat suci (Bible) menjadi puisi dengan narasi yang panjang. Tema yang banyak diangkat adalah rasa bersalah manusia, keberadaan korupsi kejahatan dan moral, perlunya dan penemuan jati diri manusia, serta kemungkinan penebusan dosa manusia, Warren memperoleh penghargaan berlimpah, termasuk dua Pulitzer Prize dan National Book Award. Pada tahun 1986 Warren mendapat gelar dari asosiasi sastra negara bagian Amerika Serikat sebagai “the first official poet laureate of the United States” atau Penyair Resmi Kenamaan Amerika Serikat yang Pertama.
Sejarah Hidup Singkat
Warren lahir di Guthrie, negara bagian Kentucky, Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan SMA, ia melanjutkan pendidikan militer pada US Naval Academy di Annapolis, Maryland. Riwayat pendidikan militernya berakhir saat mengalami cedera mata yang membuatnya dikeluarkan.
Selanjutnya Warren bergabung di Vanderbilt University Fakultas Teknik Kelautan selama beberapa minggu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke jurusan Sastra Inggris. Di bawah bimbingan Yohanes Crowe Ransom, instruktur bahasa Inggris pertamanya, Warren bergabung dengan "buronan" (fugitive). “Buronan” adalah sebuah serikat guru dan siswa di Vanderbilt. Serikat ini mengadakan kegiatan studi kritis terhadap karya sastra dan puisi, melalui diskusi rutin dan penerbitan majalah. Fugitive (bukan the fugitive yang disampaikan Snyder) bertujuan untuk membangun kesepahaman dan merekonstruksi pemikiran karya sastra klasik dengan model dekonstruksi makna kata. Hal ini ditandai dengan budaya egaliter yang dibangun selama sejarah perjalanannya (Under the Poetry, Cohen, essay 2002).
Warren melanjutkan studinya di Universitas California, Berkeley. Di sana ia bertemu Emma Brescia, yang kemudian menjadi istri pertamanya. Kecewa dengan sistem studi di California University, Warren pindah ke Universitas Yale dan melanjutkan studi pasca sarjana di Universitas Oxford.
Karyanya sastranya yang populer di masa itu, selain dari beberapa puisi pendek dan esai yang telah muncul sebelumnya di majalah, adalah biografi John Brown: The Making of a Martyr (1929). Setelah Warren menyelesaikan studi di Oxford pada tahun 1930, ia kembali ke Amerika untuk menikahi Brescia, dan mulai mengajar di Southwestern Presbyterian College dan Vanderbilt.
Pada tahun 1934, ia menjadi pengajar di Louisiana State University dan bergabung dengan profesor Cleanth Brooks dalam mendirikan lingkar studi ”Review Selatan” (Southern Review). Bersama dengan Brooks, Warren juga menyusun sebuah buku “ Understanding Poetry: An Anthology for College Students” (Memahami Puisi, Sebuah Antologi Untuk Mahasiswa (1938), sebuah teks kunci gerakan kritik “gaya baru” (New Criticism) yang kelak diusungnya. Sementara itu, upaya Warren untuk menulis puisi terus berlanjut hingga kumpulan puisinya yang berjudul “Thirty-Six Poems” (Tiga Puluh Enam-Puisi) diterbitkan tahun 1935.
Pada tahun 1944, Warren diangkat menjadi profesor di Universitas Minnesota, setelah menyelesaikan karya puisi “Selected Poems: 1923-1943”, dan dua novel: Night Rider (1939) dan At Heaven’s Gate (1943). Novel Night Rider (Pengendara Malam) pernah diangkat menjadi film layar lebar produksi Hollywood dan menjadi bahan diskusi klub dikusi mahasiswa UI tahun 1960. Soe Hok Gie membuka diskusi dengan kata-kata Warren dalam bukunya tersebut : “Tak ada yang tersisa pada malam selain pengendara terakhir. Sebab ia mengendarai ketakutan”.
Selama dekade berikutnya, Warren mengalami kekeringan total dalam komposisi puitis dan tidak dapat menyelesaikan puisi apapun. Dia memfokuskan energinya pada prosa, terutama dalam novelnya yang paling terkenal “Semua Pria Raja” dan sebuah esai kritis tentang karya Samuel Taylor C. “The Rime of the Ancient Mariner”. Essai ini berjudul "Sebuah Puisi dari Imajinasi Murni: Sebuah Percobaan dalam Membaca”.
Pada tahun 1950, Warren menetap di New England setelah menerima gelar profesor dari Universitas Yale. Berarti dalam jangka waktu 6 tahun ia telah memperoleh gelar profesor dari 2 universitas kenamaan, yaitu Minnesota dan Yale University. Warren bercerai pada tahun 1951 dan menikahi penulis Eleanor Clark di tahun berikutnya. Pernikahannya yang kedua telah memompa energi Warren untuk kembali menulis sajak. Hasilnya sebuah puisi naratif yang panjang berjudul : “Brother to Dragons: A Tale in Verse and Voices” [Bersaudara kepada Naga, Sebuah Kisah dalam Ayat dan Suara] terbit tahun 1953.
Pada musim gugur 1989, Warren meninggal karena kanker tulang di Stratton, Vermont. Namun karya-karyanya yang terdiri dari puisi, novel, kritik sastra, esai, biografi, naskah drama, dan cerpen telah mengabadikan nama Robert Penn Warren sebagai sastrawan dan tokoh humanis terkemuka di dunia.
Tinjauan Kritis Singkat
Warren telah memberikan kontribusi yang sangat bervariasi untuk sastra Amerika selama masa perang dingin. Ia mempublikasikan karya dengan beberapa tema puitik yang khas, antara lain “kejatuhan kemurnian” serta “konsekuensi Dosa dan Keterasingan”.
Beberapa pengamat yang menganalisis perkembangan Warren sebagai penyair, melihat perkembangan karya-karya awalnya yang penuh dengan formalitas telah berpadu dengan isu kesejarahan yang ambisius (terlihat pada novel : “Bruder di dekat-epik untuk Dragons”). Adapun karya-karya tahap awal setelah epik tersebut telah berkembang menjadi dialektika pribadi yang sarat pesan moral.
Dalam hal komposisi dan penggubahan syair puitisnya, James Wright telah mengamati Warren sebagai tokoh yang "mendistorsi kekerasan bahasa”. Menurutnya puisi Warent adalah bentukan dari komunikasi verbal dengan ciri khas yang saling mengikat, liris dengan penyampaian yang rendah hati dan tulus. James Wright juga mengkritik experimentalisme puitis Warren, yang rancak dengan ritme dan pola-pola struktural yang sangat terkendali ( Poetry Crticism; J.A. Wright 1967 ).
Selain Wright banyak komentator sastra Amerika pada tahun 1960-an telah menganggap Warren mengalami “ketimpangan diksi puitis”. Mereka menganggap Warren mengutip ayat-ayat dari kitab suci secara berlebihan dan sering menggunakan kata-kata yang canggung. Hal ini terjadi karena komposisi lirik yang disusun dengan cepat dan ingin meninggalkan kesan megah.
Sebagai seorang spritualis Kristen, Warren telah melakukan penyimpangan yang luar biasa dengan mengambil risiko menjadi penyair. Namun terobosan Warren terlihat jelas pada karya transisional seperti “Inkarnasi” dan “Audubon”, yang menggambarkan semangat baru dan keberanian dalam mewartakan injil (James Baldwin Criticism, Baldwin, France 1961)
Pada akhir 1970-an, kritikus Harold Bloom memelopori publik sastra Amerika untuk mendaulat Warren sebagai salah satu penyair besar dari tradisi abad kedua puluh. Hal ini didukung oleh barisan penyair Amerika terkemuka saat itu termasuk Robert Frost, Hart Crane, Wallace Stevens, William Carlos Williams, Ezra Pound, dan TS Eliot. (Arsip Sastra Dunia Vol-24, Perpustakaan Umum Propinsi Aquitaine, France)
Warren telah menghasilkan puisi yang orisinal dan visioner, serta menginspirasi sastrawan dunia. Publikasi dari The Collected Poems Robert Penn Warren pada tahun 1998 terbukti telah menjadi anugerah atas jasanya. Roeslan, DES yang pernah menjadi pengajar studi Anglophone di Nice University mengomentari buku tersebut : “relevansi puisi kontemporer yang diusung Warren telah terus menyusut, terutama pada karya-karya di akhir hayatnya. Meskipun demikian Warren telah berdiri sebagai salah satu tokoh utama abad kedua puluh Amerika dengan karya-karyanya yang brilian”. James Dickey telah megabadikan nama Warren dengas kalimat, "he invest us with the greatest and most exacting of all human powers: that of discovering and defining what we must be, within the thing that we are”.
“dia (Warren) telah menginvestasikan kepada kita dengan hal yang tersulit dan terhebat dari seluruh kekuatan manusiawi (yaitu ) : Menemukan dan memaknai tentang apa yang harus kita lakukan, dengan apa-apa yang kita miliki apa adanya”
Mengenal Puisi Rima Pola 4444
Mengenalkan Puisi Sanjak Rima Pola Tuang 4444 ala lifespirit
Ragam karya sastra baik puisi, prosa,sajak, dst, akan kian membuka pintu kreasi bagi penggiat sastra,pecinta sastra dan atau pencipta karya sastra itu sendiri. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dalam estetika bahasa pun estetika maknanya mampu memicu olah rasa piker penghayat dalam menggali kedalaman pesan pun makna yang tersemat pada tubuh karya tersebut secara utuh.
Tumbuh kembang seni sastra puisi dari zaman ke zaman senantiasa melahirkan tekhnik-tekhnik dalam kepenulisan karya puisi dan atau sajak, seperti halnya lahirnya tekhnik-tekhnik baru dalam penulisan prosa, baik itu yang benar-benar baru, maupun tekhnik yang merupakan sempalan dari pola-pola tuang yang sudah ada sebelumnya. Dan memang harus seperti itu adanya agar seni sastra kian kaya ragam serta tidak jalan di tempat (Kalau tidak boleh dikatakan “Menjemukan”).
Berbicara mengenai pola tuang dalam berkarya cipta puisi atau sajak, saya termasuk salah satu orang yang tidak mau terikat pada salah satu medium tuang karya ( walau beberapa orang berpendapat bahwa dengan satu medium tuang akan memperkokoh identitas pengkarya cipta di mata penikmat baca/penghayat ), tapi saya punya alasan pribadi untuk itu, yang mana hal ini berkaitan dengan kenyamanan saya dalam berkarya cipta sehingga dengan begitu saya pribadi berharap bisa menyampaikan idea tema dengan maksimal.
Dan boleh dikata dari ketidak konsistenan pola tuang yang saya pakai dalam menghasilkan karya cipta puisi,sajak,sair dst itulah pada akhirnya simpul kreatif saya terulik untuk menciptakan suatu karya puisi dengan pola tuang sanjak rima berpeluk 4444.
Puisi dengan pola tuang 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra puisi/sajak/syair/pantun yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai. Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi sanjak rima dengan aturanyang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat ( kata dasar ) ; 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika pesan/makna.
Sekali lagi perlu saya tekankan di sini, bahwasanya acuan dasar dari pola 4444 adalah sajak rima sastra akar leluhur, Namun begitu pada karya ini (yang selanjutnya saya sebut sebagai puisi pola 4444, lebih menitik beratkan pada jumlah huruf pada kata dan jumlah kata pada baris serta jumlah baris pada bait. Sedang saya pergunakan rima berpeluk semata untuk mendapatkan efec rima (metrum) saat dibaca. Satu lagi pada bacaan puisi pola 4444 dengan rima berpeluk. Pembaca akan mendapatkan efek gema. seakan kita ditarik lagi pada bunyi akhir awal bait. tarikan rima di baris awal bait dengan bunyi rima akhir dibaris akhir pada bait yang sama menciptakan suatu arus gravitasi kata dan atau gravitasi bahasa yang berseakan memantul dan menimbulkan bunyi yang bergema. Contoh: perhatikan efek gema yang ditimbulkan oleh rima yang saya beri tanda ( ) di bawah ini :
Pada jiwa yang la(ut)
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ik(ut)
Ahai! Loba bola ma(ta)
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi ka(ta)
Jadi dalam penggunaan rima tidak boleh asal mengejar bunyi saja, dalam pengertian "mengejar bunyi" yang saya maksudkan di sini, yaitu tidak hanya sekedar mencari kesamaan rima di akhir kalimat saja, padahal secara bentukan alur baris dan atau antar barisnya tidak saling terkait maksud/makna, jadi di sini yang saya maksudkan jangan hanya mengejar bunyi rimanya sahaja. Dan mengenai asonansi; perulangan bunyi vokal dalam deretan kata dan atau penggunaan aliterasi ; pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan, tidak mesti harus, yang pasti dasar pemikiran penciptaan karya ini sesuai dengan yang saya katakan diatas mengacu dari pola tuang sastra melayu pujangga lama tidak menyimpang dari pola rima berpeluk/berpaut, dan yang pasti tidak menyimpang aturan pola 4444.
Perihal jumlah huruf pada kata, akhirnya saya juga mendapati suatu kemungkinan baik atas elastisitas bahasa, dimana untuk kata tunjuk tempat adalah suatu hal yang mempunyai sifat khusus pada makna suatu kalimat bila tidak disertakan: di,ke, sehingga tidaklah mengapa bila lebih satu kata, bila kata tersebut merupakan satu kesatuan makna pada kata terkait. (di,ke). Hal ini berlaku juga untuk sesuatu kalimat/kata yang walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata,masih bisa di tolerir, Bilamana Ianya, kata/kalimat tersebut menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat, misal: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara dst.
Dan pada akhirnya, semoga puisi pola 4444 ini tidak memberi dampak negative bagi tumbuh kembangnya sastra tanah air, namun justru saya berharap pola tuang sanjak rima 4444 ini memberi inspirasi walau sekiranya hanya serupa titik bagi penggiat sastra tanah air dan atau pecinta sastra dalam membawa sastra ke puncak ketinggian bahasa. Insyaallah. Amin3x
KUMPULAN PUISI POLA 4444
1) Sang Naga
Naga emas para Dewa
Liuk laun naik ke mega
Suci laku suci kata
Budi baik arak jiwa
Hong! fana pada akar
Inti kata pada arti
Bila tahu laba rugi
Jauh l dari aku ular
Pada bayu, kata Naga
Kamu Hong saya nari
Saya nepi jika duri
Fana, rugi atau laba?
Bila hati satu rasa
Hari hari luah suka
Lupa lara juga duka
Tuan, Nona, ikat kala
______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 8 July 2011
2) Yang Satu
: Prof. Dimas Arika Miharja
Ayah, pada laku usia
Usai baca duka hati
Budi, ilmu pada arti
Atma baik sepi luka
Kata ayah, akal fana
Kala kita haus ilmu
Biar jauh dari semu
Buka luas mata jiwa
Ayah, pada saat pilu
Kamu ikat luka lara
Kamu tata suka cita
Agar hati jadi padu
Kata ayah, umur, saru
Kini pada sisa usia
Bila bila tiba masa
Puja puji pada Satu
__________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit rev.5 July 2011
3) Pada Lima
Kala pati dera jiwa
Akal budi jadi mati
Bila haus puja puji
Hati buta mati rasa
Bila umat taat adat
Jauh cela jauh dosa
Biar raya biar jaya
Jaga niat yang kuat
Hayo kita sama laju
Ajak mata juga atma
Jaga tata pada lima
Pada niat yang Satu
Agar jauh duka lara
Laku baik saka diri
Bila padu visi misi
cita cita luah suka
( lifespirit 2009 rev. 5 July 2011 )
4) Ohai!
Pada jiwa yang laut
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ikut
Ahai! Loba bola mata
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi kata
Tapi, bila baik iman
laku diri akan taat
Pada tuju kian giat
Hari hari elok nian
Ohai! Nona mata jeli
Buka mata buka hati
Jaga laku jaga diri
Maut;ajal, satu kali
_______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 6 July 2011
je·li a 1 elok dan bercahaya (tt mata)
Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.
5) Mati Suri
Pagi! Indonesia yang seri
Duka nian kamu Indonesia
Padi padi jadi bara
Lima sila jadi duri
Pada hati kami kata
Sila jadi meja judi
Para Tuan lupa diri
Jiwa jiwa luka: Kita?
Di Kota juga Desa: Sama
Sana sini gila uang
Meja meja gila Gong
Kini mati suri Indonesia
Di Masjid;Gereja;Pura;Vihara
Nada, sepi gema;bisu
Daun hati yang layu
Tapi, nadi kita Indonesia
_____________________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 9 July 2011
Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.
Indonesia; walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata, bisa di tolerir, sebab Ianya menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara
si·la n 1 aturan yg melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; 2 kelakuan atau perbuatan yg menurut adab (sopan santun); 3 dasar; adab; akhlak; moral: -- dalam Pancasila saling terkait
salam lifespirit!
Ragam karya sastra baik puisi, prosa,sajak, dst, akan kian membuka pintu kreasi bagi penggiat sastra,pecinta sastra dan atau pencipta karya sastra itu sendiri. Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang dalam estetika bahasa pun estetika maknanya mampu memicu olah rasa piker penghayat dalam menggali kedalaman pesan pun makna yang tersemat pada tubuh karya tersebut secara utuh.
Tumbuh kembang seni sastra puisi dari zaman ke zaman senantiasa melahirkan tekhnik-tekhnik dalam kepenulisan karya puisi dan atau sajak, seperti halnya lahirnya tekhnik-tekhnik baru dalam penulisan prosa, baik itu yang benar-benar baru, maupun tekhnik yang merupakan sempalan dari pola-pola tuang yang sudah ada sebelumnya. Dan memang harus seperti itu adanya agar seni sastra kian kaya ragam serta tidak jalan di tempat (Kalau tidak boleh dikatakan “Menjemukan”).
Berbicara mengenai pola tuang dalam berkarya cipta puisi atau sajak, saya termasuk salah satu orang yang tidak mau terikat pada salah satu medium tuang karya ( walau beberapa orang berpendapat bahwa dengan satu medium tuang akan memperkokoh identitas pengkarya cipta di mata penikmat baca/penghayat ), tapi saya punya alasan pribadi untuk itu, yang mana hal ini berkaitan dengan kenyamanan saya dalam berkarya cipta sehingga dengan begitu saya pribadi berharap bisa menyampaikan idea tema dengan maksimal.
Dan boleh dikata dari ketidak konsistenan pola tuang yang saya pakai dalam menghasilkan karya cipta puisi,sajak,sair dst itulah pada akhirnya simpul kreatif saya terulik untuk menciptakan suatu karya puisi dengan pola tuang sanjak rima berpeluk 4444.
Puisi dengan pola tuang 4444 ini saya ciptakan atas dasar ketertarikan saya pada karya sastra puisi/sajak/syair/pantun yang berbasis akar budaya tanah leluhur yang kita cintai. Berawal dari sana saya tergelitik untuk membuat puisi sanjak rima dengan aturanyang boleh dikata tak lazim, karena pola ini terdiri dari serangkaian tautan kalimat yang per kalimatnya hanya terdapat 4 huruf pada kata/kalimat ( kata dasar ) ; 4 huruf dalam satu kata/kalimat, namun dalam satu kesatuan utuh tubuh karya, dan harus tetap memenuhi unsur sajak baik secara estetika bahasa pun secara estetika pesan/makna.
Sekali lagi perlu saya tekankan di sini, bahwasanya acuan dasar dari pola 4444 adalah sajak rima sastra akar leluhur, Namun begitu pada karya ini (yang selanjutnya saya sebut sebagai puisi pola 4444, lebih menitik beratkan pada jumlah huruf pada kata dan jumlah kata pada baris serta jumlah baris pada bait. Sedang saya pergunakan rima berpeluk semata untuk mendapatkan efec rima (metrum) saat dibaca. Satu lagi pada bacaan puisi pola 4444 dengan rima berpeluk. Pembaca akan mendapatkan efek gema. seakan kita ditarik lagi pada bunyi akhir awal bait. tarikan rima di baris awal bait dengan bunyi rima akhir dibaris akhir pada bait yang sama menciptakan suatu arus gravitasi kata dan atau gravitasi bahasa yang berseakan memantul dan menimbulkan bunyi yang bergema. Contoh: perhatikan efek gema yang ditimbulkan oleh rima yang saya beri tanda ( ) di bawah ini :
Pada jiwa yang la(ut)
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ik(ut)
Ahai! Loba bola ma(ta)
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi ka(ta)
Jadi dalam penggunaan rima tidak boleh asal mengejar bunyi saja, dalam pengertian "mengejar bunyi" yang saya maksudkan di sini, yaitu tidak hanya sekedar mencari kesamaan rima di akhir kalimat saja, padahal secara bentukan alur baris dan atau antar barisnya tidak saling terkait maksud/makna, jadi di sini yang saya maksudkan jangan hanya mengejar bunyi rimanya sahaja. Dan mengenai asonansi; perulangan bunyi vokal dalam deretan kata dan atau penggunaan aliterasi ; pengulangan bunyi konsonan dari kata-kata yang berurutan, tidak mesti harus, yang pasti dasar pemikiran penciptaan karya ini sesuai dengan yang saya katakan diatas mengacu dari pola tuang sastra melayu pujangga lama tidak menyimpang dari pola rima berpeluk/berpaut, dan yang pasti tidak menyimpang aturan pola 4444.
Perihal jumlah huruf pada kata, akhirnya saya juga mendapati suatu kemungkinan baik atas elastisitas bahasa, dimana untuk kata tunjuk tempat adalah suatu hal yang mempunyai sifat khusus pada makna suatu kalimat bila tidak disertakan: di,ke, sehingga tidaklah mengapa bila lebih satu kata, bila kata tersebut merupakan satu kesatuan makna pada kata terkait. (di,ke). Hal ini berlaku juga untuk sesuatu kalimat/kata yang walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata,masih bisa di tolerir, Bilamana Ianya, kata/kalimat tersebut menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat, misal: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara dst.
Dan pada akhirnya, semoga puisi pola 4444 ini tidak memberi dampak negative bagi tumbuh kembangnya sastra tanah air, namun justru saya berharap pola tuang sanjak rima 4444 ini memberi inspirasi walau sekiranya hanya serupa titik bagi penggiat sastra tanah air dan atau pecinta sastra dalam membawa sastra ke puncak ketinggian bahasa. Insyaallah. Amin3x
KUMPULAN PUISI POLA 4444
1) Sang Naga
Naga emas para Dewa
Liuk laun naik ke mega
Suci laku suci kata
Budi baik arak jiwa
Hong! fana pada akar
Inti kata pada arti
Bila tahu laba rugi
Jauh l dari aku ular
Pada bayu, kata Naga
Kamu Hong saya nari
Saya nepi jika duri
Fana, rugi atau laba?
Bila hati satu rasa
Hari hari luah suka
Lupa lara juga duka
Tuan, Nona, ikat kala
______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 8 July 2011
2) Yang Satu
: Prof. Dimas Arika Miharja
Ayah, pada laku usia
Usai baca duka hati
Budi, ilmu pada arti
Atma baik sepi luka
Kata ayah, akal fana
Kala kita haus ilmu
Biar jauh dari semu
Buka luas mata jiwa
Ayah, pada saat pilu
Kamu ikat luka lara
Kamu tata suka cita
Agar hati jadi padu
Kata ayah, umur, saru
Kini pada sisa usia
Bila bila tiba masa
Puja puji pada Satu
__________________________________
@ Imron Tohari _ lifespirit rev.5 July 2011
3) Pada Lima
Kala pati dera jiwa
Akal budi jadi mati
Bila haus puja puji
Hati buta mati rasa
Bila umat taat adat
Jauh cela jauh dosa
Biar raya biar jaya
Jaga niat yang kuat
Hayo kita sama laju
Ajak mata juga atma
Jaga tata pada lima
Pada niat yang Satu
Agar jauh duka lara
Laku baik saka diri
Bila padu visi misi
cita cita luah suka
( lifespirit 2009 rev. 5 July 2011 )
4) Ohai!
Pada jiwa yang laut
Arah tuju pada niat
Bila luka kamu Ikat
Suka cita akan ikut
Ahai! Loba bola mata
Elok nian kamu nona
Akal bisa jadi lena
Bara bisa jadi kata
Tapi, bila baik iman
laku diri akan taat
Pada tuju kian giat
Hari hari elok nian
Ohai! Nona mata jeli
Buka mata buka hati
Jaga laku jaga diri
Maut;ajal, satu kali
_______________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 6 July 2011
je·li a 1 elok dan bercahaya (tt mata)
Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.
5) Mati Suri
Pagi! Indonesia yang seri
Duka nian kamu Indonesia
Padi padi jadi bara
Lima sila jadi duri
Pada hati kami kata
Sila jadi meja judi
Para Tuan lupa diri
Jiwa jiwa luka: Kita?
Di Kota juga Desa: Sama
Sana sini gila uang
Meja meja gila Gong
Kini mati suri Indonesia
Di Masjid;Gereja;Pura;Vihara
Nada, sepi gema;bisu
Daun hati yang layu
Tapi, nadi kita Indonesia
_____________________________________
@Imron Tohari _ lifespirit 9 July 2011
Karakter dasar penciptaan karya puisi pola 4444 ini, didasari :
4 huruf dalam satu kata/kalimat,
4 kata/kalimat dalam satu baris, , ( Di tolerir lebih satu kata, bila kata tadi berfungsi sebagai kata tunjuk tempat : di, ke )
4 baris dalam 1 paragraf/bait/larik,
4 paragraf/bait/larik membentuk 1 alur cerita,
bersanjak rima ( rima berpeluk/berpaut ) pada setiap baitnya.
Indonesia; walau lebih dari 4 huruf dalam satu kalimat/kata, bisa di tolerir, sebab Ianya menunjukan dan atau merupakan nama suatu tempat: Negara;Masjid;Gereja;Pura;Vihara
si·la n 1 aturan yg melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; 2 kelakuan atau perbuatan yg menurut adab (sopan santun); 3 dasar; adab; akhlak; moral: -- dalam Pancasila saling terkait
salam lifespirit!
Mengenal Epigram dalam Puisi
oleh Liweng-Gun
Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait. Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian. Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.
Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial. Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar Domitian, Nerva dan Trajan. Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal dan romantika pendidikan di masa itu.
Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain : John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.
Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram :
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.
Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya? Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas
Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.
Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga
Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)
Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker
Transliterasi :
Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas
Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”
everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy
contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung
(Liweng-Gun)
Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”
Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.
Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait. Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian. Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.
Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial. Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar Domitian, Nerva dan Trajan. Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal dan romantika pendidikan di masa itu.
Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain : John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.
Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram :
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.
Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya? Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas
Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.
Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga
Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)
Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker
Transliterasi :
Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas
Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”
everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy
contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung
(Liweng-Gun)
Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”
Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)