Tampilkan postingan dengan label Lindu Wisanggeni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lindu Wisanggeni. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

MERDEKA

MERDEKA

sekuntum sajak
kupetik dari merah yg rekah
setelah jam berdetak
pada kuntum putih melemah

merdeka adalah cakrawala
pembebas kepak sayap
tanpa batas
tanpa luka

merdeka adalah air kali
penuntun hujan dan buih
meresap atau musnah

merdeka bukanlah pekik
pada usus yg tercekik
lalu luka dan mengkayu

sepatah kata itu
adalah api atau batu
pada prasasti
mungkin pada foto hitam putih

Kamis, 11 Agustus 2011

PANTUN HIDANGAN

PANTUN HIDANGAN

jika ada api di tungku
mari kita menanak nasi
jika ada kata menderu
belum tentu itu puisi

nasi matang jangan kau buang
mari disantap dengan gembira
santun bahasa tinggi menjulang
itulah adat bangsa kita

setelah makan marilah minum
air santan bercampur gula
mari merangkai kata yg ranum
berbagi makna untuk sesama

gula aren gula kelapa
jika bercampur manisnya gamang
di dalam negeri jangan bertempur
jangan menebar slogan usang

manis asin adalah rasa
penawar hambar di ujung lidah
hamba kemari belajar sastra
enggan membaca sumpah serapah

gula kelapa dibikin kolak
jadi penganan saat berbuka
kebun sastra jangan dirusak
tebarlah pesan bukan pesona

Jumat, 29 Juli 2011

DEBU

D E B U

debu deburan debu
-----debu buram bu
---debu muram bu
-bukan debumu buram
debumu buram bukan
deburan debu muram buram
debu bedebu debah bedebah

MENCURI F-16

MENCURI F-16

mesin meraung-raung
dua sayapnya berasap
di dahinya api membumbung
jasadnya hinggap

meledak berkeping-keping
menabrak dahan dan ranting
bau tembikar baja terbakar
bendera putih berkibar-kibar

darah kamboja meleleh
ditangisi pembakaran matahari
bocah bocah terkekeh-kekeh
tetua-tetua dusun berduyun duyun menangisi

kiamat kiamat
perang perang
padang ilalang roboh
tubuhnya dicabut tangan-tangan kokoh

lautan manusia
mata air mata
hamparan kata
dusta doa dusta

mesin ketik berseliweran mengisi berita
edaran-edaran kedukaan duduk manis dimuka
pak kusir bekerja baik jalannya
ledakan semalam tangisan kata

jasadnya padang ilalang
bersama tanah menjadi liang
sayap patah hancur lalu hilang
burung besi itu berkalang kandang

jalan-jalan sepi
hening ciptanya angkat topi
desas-desus penculikan
burung besi jadi pahlawan

lalu kemana perginya
pengemudi yang terpenggal
tanpa kepala
sisa darah kamoja
bukan lagi miliknya

(lindu wisanggeni, ponjong 2011)