Tampilkan postingan dengan label Frid Dacosta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Frid Dacosta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

PUNGLOR CENDANA

PUNGLOR CENDANA

Kepak sayap berbulu ledang
Mematuk sore di rekah putik,
Paruh itu kerap berujar sendu
Sebelum angin senja melindap pulang;
Di dekatku,rumpun teratai binal
Yang belum pernah kau dengar
Nama dari habitatnya

Dan aku tak inginkan bunga
Sebab niat hati demikian terbakar
Agar kuberi padamu sebuah judul
Nyanyian abstrak "punglor cendana"
Yang belum pernah kau dengar
Nama dari habitatnya

-"punglor cendana" adalah sejenis burung punglor dari pulau Timor

DIRGAHAYU

DIRGAHAYU

Merah ini tertakar darah
Putih ini tertakar tulang

Aku cinta Indonesia lebih dari sepatumu
Meski tanpa kasut
Apalagi dasi

Bukan tingginya sebatang pinang
Bukan lumuran olie kotormu
Bukan hadiah-hadiah palsumu

Dada ini anak garuda
Yang pada punggungnya enam-enam
Matahari terbit

Kupeluk kakimu duhai Pertiwi
Dari ujung bentangan nusa karang

Sekali aku lahir,selamanya INDONESIA"

Selasa, 09 Agustus 2011

ANTHURIUM

ANTHURIUM

Sejak embun dendangkan kerlipnya
Pada teduh daun sebelum matahari
Kita karib melekat hingga setubuh;
Basah di antara serpihan akar pakis

Sebelum berlalu
Kusematkan rindu di ujung lidah
:helai-helai kelopakmu yang mengombak

Minggu, 07 Agustus 2011

RINDU TERLEPAS

RINDU TERLEPAS

Dua lorong bertemu senyap
Sepasang riuh saling benam

Tersebab dendam begitu gerimis
Mematuk pada hulu nafas

Dan tenggelam

BERI AKU JUDUL

BERI AKU JUDUL

Kami hanyalah lakara
Bertepi riak telaga sunyi
Bukan gemuruh lidah ombak
Keras menampar tebing karang

Kami hanyalah murai
Kicau lirih di lengan perdu
Bukan si sombong belibis laut
Terbang menukik menara bakau

Di "trenggalek"
Keping-keping rindu menyatu
Tanpa mata,kami telan luka
Dengan bibir kenyang senyum

Siang bertanak awan
Malam setanak mimpi

:buat sahabatku di komunitas sastra trenggalek

PUISI SAHABAT karya Frid Dacosta

PUISI SAHABAT
-Tosa Poetra-

Setelah membacamu;
Pada ruas jemari,kertasku tanya:
"Kapan negeri kita berjaya?
Sedang dadaku tak lagi sanggup menahan luapan"

Kata semata pena:
"Hingga kering darahku,atau tubuh ini terpatah!"

Kamis, 28 Juli 2011

KEPADA SEPATU SEPATU BESI

Ketika ia mati,aku tak bisa tersedu

sebab telaga mata kehilangan riak



kami telah menangis di semua musim

Segenap lembah,pada landai Ibu

yang kita namai pertiwi



Kami hanya seletup mulut tanpa laras

sedecak pun lidah ini tak berpelatuk

apalagi debar dada tinggal sehela nafas

Mengapa? Kau tega menyiramkan darah

ke atas ringkainya cekung kelopak mata ibu

yang kita namai pertiwi



Waktu ia mati,aku tak bisa tersedu.

Sebab kami telah menangis di segala gubuk

segala dangau,kepala terbenam tungkai

jejari menusir di retak tanah

mengais sisa embun pada gersang bibir ibu

yang kita namai pertiwi



Jika kami terus mati

tujuh turunan arwah keturunan moyangku

akan bangkit dari rahim ibu

yang kita namai pertiwi



Sekali pun

Jangan lagi kami mati terkapar

di bawah kolong sepatu-sepatu besi

NYANYIAN PERBATASAN

Di dadaku petang,

dan cangkir ini patah kuping.



Sebelum beranjak ke bibirnya

tiba-tiba bijikepalaku berpindah

ke lembar kitab merah bertuliskan darah

mereka yang membujur kaku,kita tegak

menghidu sejuk nafas kekal di punggung Negeri



Bapak Negeri mati terbuang

setelah lantang ia teriak:

Merdeka!

Merdeka!

Merdeka!

:Percuma menukar darah dengan bendera,

belulang mendebu dalam ronggarongga tanah



Kami gulung nota sejarah dengan mata berair

semenjak lelah berdiri di akhir pekik

dalam lautan asa yang perlahan kembali surut

oleh keciap tangis anakku,anak tetangga sebelah

tersebab lendir di puting payudara ibu

kering terjilat musim



cangkir patah kuping ini kehabisan gula

sedang aku mengingat tentang hari,tanggal dan bulan persis tahun kelahiran ibuku,ketika hikmat

melahap semburan ludah dari atas podium

depan barisan kursi kursi pinjaman rakyat;

Berlembar pidato politik terbakar terik

di kaki tiang putih yang pada ujungnya

merahku tercabik,putihmu memudar



Di cangkir patah kuping ini kutandaskan petang

Bersama kopi pahit seduhan perempuanku.



Aku menarik selimut kumal

di dekat balai-balai,lampu duduk;

sebuah kaleng bekas susu kimia tertanggal kadaluarsa habis minyak

dengan terpaksa aku dan gulita bersetubuh tanpa sehelai pun cahaya bulan



Oh! Desaku tak sebinar kotamu,tuan

dimana para ikankoki tanpa kutang

mencari makanan dalam kotak-kotak berkaca

yang dada terutama daging bibirnya membara

bagaikan urat kabel listrik bertegangan tinggi



Air tanah,tanah berair meluap dari berpasang mata

wajah-wajah perbatasan tak pernah dicuci

KETIKA MUSIM BERTUKAR

Di selembah lalang ufuk timur

Langit fajar berkabarkan debu

Pada pepucuk yang mulai kering

Nafas bumiku melantak;

Adakah yang berpaling daripadamu?



Sajak-sajak basah menguap lesap

Entah berapa bait kita menulisi waktu

Sebagaimana gerimis pernah bertalu

Atau suatu petang mendung membiar

Derau hujan berlarian di dada kita



Segenap kejadian menuai kata

Usai penghujan,kita hanyalah perindu

Kisah usang tinggal di punggung daun

Reranting gelisah menatap curam



Ketika musim bertukar

Kepada kemarau berceritalah debu

"Bibir siapa tak menggamit kenang?"



Sebab musim sesungguhnya puisi

Antara kita dan lalu adalah kenang

PENGAKUAN PUISI

Ibuku jalanan
Birahi sunyi membunting rahim
Hingga aku terlahir "premature"

Itu katamu,sebelum aku mati dini
Dengan tubuh yang jiwanya kau robek
Tajam! Mata pisau mencacah darah
Di sebuah sudut ruang pengap rasa

:aku terfonis mati dengan rumus hitung
"Aljabar"