Tampilkan postingan dengan label Driya Widiana M S. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Driya Widiana M S. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

yang aku mampu

yang aku mampu

ada canda
ada keluh
ada tawa
ada kecewa
ada tangis
ada serapah
ada perseteruan
yang dirangkai oleh aksara
yang setiap hari
muncul di dindingku

aku ikut bahagia
kalau ada yang bahagia
aku turut sedih
kalau ada yang bersedih
aku jadi prihatin
kalau ada perseteruan
dan sumpah serapah
aku ingin menolong
bila ada yang bersusah
tentu saja yang aku bisa

yang aku lebih nelangsa
mamandang carut marut negriku
dan aku hanya mampu berdoa

didiek soepardi ms
12 agustus 2011

untaian kasih

untaian kasih

helaan nafas adalah symphony rindu
yang tersimpan dan terperam dalam kalbu
kar'na tak cukup ruang 'tuk mengartikan
dan melukisnya
di kedalaman anganku
tentangmu

dan mentaripun
memeluk lembut hangat dirimu
bersama embun yang setia
menemani pagiku
menata hari bersamamu

sapa pagiku
tak lagi melukai jiwamu
sebab malam indah memeluk mimpi
semburat jingga di timur
tersenyum indah
menyapa sepoi angin
pembawa rindu

terimakasih kekasih
dalam sapamu
ku temukan kasih begitu indah

sapa pagimu
membuatku beranjak
dari tidur malamku
dan lembut sapaku
menyejukkan beranda hatimu
meronakan warna pipimu
hingga tersipu memandangku
oh kekasihku

semalam kau kusapa
lewat selimut
yang kau tebar untuk kita berdua
dan dalam dekap
kita menghangatkan malam
di bawah purnama
yang mengintip lewat jendela

pagi ini
rona merona wajahmu
pipimu memerah jambu
bagai mentari pagi yang tersipu
menyongsong hari
kar'na kita masih berbalut selimut

raisa - ayano - nadz - lis - didiek ms
13 agustus 2011

andai matahari mencumbu rembulan

andai matahari mencumbu rembulan

Andai kau rembulanku
andai matahari adalah aku
kan kucumbu kau dengan cahayaku

kau adalah rembulan
dan aku matahari
apiku akan membakarmu
hingga membara asmaramu
lantas kita bercumbu di lazuardi
berpeluhkan bintang bintang

didiek soepardi ms
16 agustus 2011

orkestra

orkestra

Bagai jemari pianis
ingin kumainkan symphony di tubuhmu
bagai pemain violin
ingin kugesek malammu
bagai gitaris
ingin kupetik dawai-dawai hatimu
dan bagai konduktor
akan kugubah madah asmara
yang akan membuat kita berlayar
di lautan gairah

didiek soepardi ms
16 agustus 2011

SENYUM PARA MUDA - LEO KRISTI

SENYUM PARA MUDA - LEO KRISTI

Tangan-tangan melambai tegar
Senyum damai baktiku
Khusuk bagi bangsaku, ooo .....

Berjuta daya senyumku
Membangun adaptasi
Ikrar adil bersatu

Cemerlanglah jiwa negriku
Cemerlanglah raga negriku
Jalinkan aku satu nama
Ayah ... Bunda ...

Para muda kaya senyummu
Para muda kaya senyumku
Nurani bangun dunia abadi
Ooo,,,, MERDEKA

lebaran berbau bangkai nurani

lebaran berbau bangkai nurani

lebaran sebentar lagi kan tiba
tetapi tak tercium olehku bau ketupat
tak ada aroma opor ayam
yang ada bau kebusukan
dari bangkai-bangkai nurani
yang kian berjibun
memenuhi angkasa
dan memupuk kedengkian para jelata
yang semakin muak
melihat drama badut-badut politik
dan peronda negri

malam lebaran
bulan di atas kuburan
kata sitor situmorang

didiek soepardi ms
20 agustus 2011

fitri raga fitri jiwa

fitri raga fitri jiwa

masihkah ada makna bersalam-salaman
kalau hanya jabat tangan
tanpa kebersihan nurani
masihkah ada makna saling bermaaf
kalau hanya bibir yang bicara
tetapi hati tak seirama
masihkah ada makna bertandang
kalau hanya raga yang bertemu
sementara jiwa entah ke mana

fitri raga fitri jiwa
raga dan jiwa menyatu rasa
wujudkan sempurna fitri

didiek soepardi ms
20 agustus 2011

Kamis, 11 Agustus 2011

kecamuk rasa

kecamuk rasa

Bingung
melihat pemimpin yang linglung
tak tahu mengayuh dayung

Galau
melihat pemimpin yang kacau
bisanya hanya meracau

Geram
melihat pemimpin yang buta
tak bisa membaca makna
jelata yang merana

Resah
melihat pemimpin yang goyah
janji tak dibayar
yang ada hanya serakah

Sakit
melihat pemimpin yang licik
cari selamat berpura sakit

Sedih
melihat nasib rakyat dan negeri
yang tak dihirau lagi
oleh para pemimpin
yang asyik berebut tulang
dan uang rakyat

Di manakah kini nurani
apakah sudah hijrah
ke perut garasi dan deposito
serta rumah-sakit di
luar negeri

didiek soepardi ms
08 juni 2011

malam memagut rembulan

malam memagut rembulan

tak ingin aku berjarak denganmu
‘ku mau kita melilitkan rindu
meniti gairah
di lengkung pelangi senja

pijar-pijar asmara
berbinar di relung sukma
berulang mereguk nikmat
akan dahaga di rembang petang

malampun memagut rembulan
mengisi kehampaan jiwa
atas ingin yang s’lalu muncul
menggeluti malam kita berdua

didiek soepardi ms
07 mei 2011

“sakit membawa nikmat”

“sakit membawa nikmat”

1/ mendung kabut
semakin menggelayut
diangkasa negeriku

2/ bau busuk
sermakin menyengat
di bumiku

3/ para petinggi menari
di perut keroncongan
anak-anak negeri

4/ wabah penyakit
menimpa tiba-tiba
lari ke luar negeri

didiek soepardi ms
28 mei 2011

menunggu waktu

menunggu waktu

gundah
resah
galau
gelisah
bah…
segala rasa menumpuk dan
saling tindih
memenuhi rongga jiwa dan
relung hati yang
kian tak mampu bersuara

kerinduan anak-anak negeri
kau simpan di peti mati
yang akan kau huni
teriakan dan jerit anak-anak negeri
kau pasung dalam congkaknya hati
dan dengan pongah kau
berkacak pinggang
sambil menyusun konspirasi
yang akan menjadi liang lahatmu

dalam diam kami
ada kedahsyatan nurani
yang akan menggilas segala angkara
dan ketidakadilan

didiek soepardi ms
11 juni 2011

penguasa negri

penguasa negri

para saudagar adalah penguasa
yang mengatur negri ini
para saudagar adalah mesin atm
dan deposito
yang mengisi kocek para pemangku
para saudagar adalah
pengatur undang-undang sejati
penentu ketukan palu

didiek soepardi ms
10 agustus 2011

yang ada ...

yang ada ...

tak ada lagi merah putih berkibar
menjulang di nusantara
yang ada panji-panji partai
kata hadi lempe
lewat TAHTAnya
tak ada lagi presiden di negeri ini
yang ada presiden partai
kata sujiwo tejo
tak ada itu penangkapan nazarudin
yang ada deal politik
kata permadi esha
lewat jakarta lawyer club
dan aku di sini
hanya bisa melompong

didiek soepardi ms
10 agustus 201...

Selasa, 09 Agustus 2011

mantra anak-anak negeri


mantra anak-anak negeri

pancaroba melintas
di perbatasan sunyi
sementara
tak lagi sepenggalah waktu
melewati sepi

aku di sini
bersama Ibu
memangku
tak peduli pada terik matahari
tak hiraukan dingin malam
tak berteduh di kala hujan
dan engkau di sana
menimang tawa
dan mengumbar perut
di meja perjamuan

aku di sini
bersama mereka
menangis dan bisikkan mantra
enyahlah kau
dari Bumi Pertiwi

didiek soepardi ms